Malam-malam ku hanya diisi oleh kata-kata yang terburai.
Saat itu, aku ingin mencabik-cabik malam,
agar cepat ku dapat terang.
Tunggu, jangan dulu terang.
Benang kusut semakin absurd.
Rangkaian
kata-kata belum terbentuk.
Aku hanya mampu melukis bimbang di udara.
negri di senja
dan hari baru pun di mulai saat tanah masih basah....
25.1.12
30.12.11
When silence is gold
Akhirnya tiba lah saya pada fase; diam. Dan membiarkan semuanya terjadi, menghempas, pergi, dan atau sekedar lewat. Jika ini disebut apatis, biarlah.
Saya tersadar dari mimpi buruk yang panjang dan saatnya untuk beranjak. Tidak perlu berlama-lama diam. Karena, dalam diam - antara mimpi dan kenyataan - akan hadir ilusi yang bisa membawamu pada kekosongan yang dalam.
Dan yang saya tau, saya terlalu berharga untuk berlama-lama di sini. Jika segala usaha ini tidak dihargai lagi, apa yang ingin saya tunggu? cacian yang menyudutkan? pembenaran?
Pada akhirnya saya lah yang menjadi lebih utuh :)
Saya tersadar dari mimpi buruk yang panjang dan saatnya untuk beranjak. Tidak perlu berlama-lama diam. Karena, dalam diam - antara mimpi dan kenyataan - akan hadir ilusi yang bisa membawamu pada kekosongan yang dalam.
Dan yang saya tau, saya terlalu berharga untuk berlama-lama di sini. Jika segala usaha ini tidak dihargai lagi, apa yang ingin saya tunggu? cacian yang menyudutkan? pembenaran?
Pada akhirnya saya lah yang menjadi lebih utuh :)
29.12.11
Antara ada dan tiada
Barusan saya berbincang dengan sahabat saya, yang juga partner di kos dan di kantor; Ida. Ini mungkin perbincangan yang ke seribu kali-nya dengan tema yang sama:
Saya:
"Kita udah terlanjur kecebur, da. Masa mau tenggelam atau mengapung. Mending kita berenang, kan? Cari tepian. Kali aja di suatu tempat nanti ada dataran yang indah."
Ida:
"Lo abis tapa brata ya, mon?"
Saya:
*Jedotin kepala di tembok*
Pasti, tidak semua dari kalian mengerti saya bicara soal apa. Ibaratnya begini, saya berdiri di sebuah lingkaran konvensional yang bangun kesiangan. Anggap saja mereka bertugas untuk menciptakan taman, dengan tanaman-tanaman yang berkualitas, bermanfaat dan harus tumbuh baru tepat waktunya.
Mereka semakin terhimpit oleh taman-taman baru yang lebih modern. Herannya, bukannya bergegas memutar ide agar taman mereka tidak ketinggalan jaman dan bermutu, mereka masih saja membuka jendela masa lalu dimana taman mereka lah yang paling besar dan terpandang. Dan kurang terik apa sang matahari menyengat mereka?
Tidak mengejutkan, ketika taman itu menjadi sepi, suram, antara ada dan tiada. Taman itu mungkin tidak akan tergusur, tetapi sangat mungkin jika taman itu hanya akan menjadi taman yang kering kerontang.
Angin semakin kering. Tetapi mereka menutup mata. Tanaman-tanaman semakin kritis. Namun mereka sibuk mencari posisi yang bagus.
Lalu datang lah sekumpulan anak muda yang di kepalanya masing-masing, sudah ada bayangan taman terindah, seindah impian mereka. Mungkin kah mereka bisa menyuburkan tanah yang sudah kering kerontang? yang enggan dijamah? yang sudah nyaman dengan tanaman-tanaman yang kerontang? yang masih merasa aman selama lahan mereka tidak digubris?
Segalanya mungkin berubah. Kita sebut ini: tantangan :)
Saya:
"Kita udah terlanjur kecebur, da. Masa mau tenggelam atau mengapung. Mending kita berenang, kan? Cari tepian. Kali aja di suatu tempat nanti ada dataran yang indah."
Ida:
"Lo abis tapa brata ya, mon?"
Saya:
*Jedotin kepala di tembok*
Pasti, tidak semua dari kalian mengerti saya bicara soal apa. Ibaratnya begini, saya berdiri di sebuah lingkaran konvensional yang bangun kesiangan. Anggap saja mereka bertugas untuk menciptakan taman, dengan tanaman-tanaman yang berkualitas, bermanfaat dan harus tumbuh baru tepat waktunya.
Mereka semakin terhimpit oleh taman-taman baru yang lebih modern. Herannya, bukannya bergegas memutar ide agar taman mereka tidak ketinggalan jaman dan bermutu, mereka masih saja membuka jendela masa lalu dimana taman mereka lah yang paling besar dan terpandang. Dan kurang terik apa sang matahari menyengat mereka?
Tidak mengejutkan, ketika taman itu menjadi sepi, suram, antara ada dan tiada. Taman itu mungkin tidak akan tergusur, tetapi sangat mungkin jika taman itu hanya akan menjadi taman yang kering kerontang.
Angin semakin kering. Tetapi mereka menutup mata. Tanaman-tanaman semakin kritis. Namun mereka sibuk mencari posisi yang bagus.
Lalu datang lah sekumpulan anak muda yang di kepalanya masing-masing, sudah ada bayangan taman terindah, seindah impian mereka. Mungkin kah mereka bisa menyuburkan tanah yang sudah kering kerontang? yang enggan dijamah? yang sudah nyaman dengan tanaman-tanaman yang kerontang? yang masih merasa aman selama lahan mereka tidak digubris?
Segalanya mungkin berubah. Kita sebut ini: tantangan :)
20.12.11
Question
Now, could you stand his stubborness?
For at least ummm.. 20 years ahead?
19.12.11
Step back for step forward then..
Saya kembali dengan perasaan yang sama. Ketika saya membangun negri di senja, saat itu senja hadir untuk mengecewakan saya.
Saya menyebutnya, pagi. Dia hadir bersama dengan langit mendung yang siap menumpahkan berton-ton air hujan. Dan, ya, hujan itu kemudian turun juga, deras sekali. Ditambah dengan petir yang tiba-tiba menyalak. Dia tidak mencoba untuk menahannya. Bahkan membiarkan saya merasakan itu semua bersama dengan ketidaktahuan saya.
Kejutan itu tentu saja menyakitkan. Namun kabut membuat saya tetap berdiri menggigil kedinginan di atas genangan air. Dan saat itu, saya tidak bisa melihat bayangan saya. Saya terlalu bingung menangkap rentetan kejadian yang begitu cepat ini. Saya kembali kecewa, kali ini kepada pagi.
Luka tetap menjadi luka. Taman ku rusak. Meskipun ia kemudian memberikan banyak bunga-bunga yang indah. Saya biarkan pagar taman kecil itu terbuka untuknya. Namun ia lupa, luka akan tetap menjadi luka. Dan saya lupa, luka tidak seharusnya untuk dipelihara.
Saya menjadi begitu penuh pemakluman hingga lupa apa makna nyaman. Dia menyimpan penolakan-penolakan dalam bom waktu yang siap meledak. Kami gagal berkomunikasi dengan tepat. Namun dia tidak akan punya kesempatan untuk mengobati kekecewaan ini.
And yes, he's the one who lose. Not me. He gave up. Me don't.
1.12.11
lagi..
Kemarin saya sadar, semuanya belum habis, masih tersisa.
Lagi-lagi saya ada di belakang layar, menyaksikan siluet kegembiraanmu.
Lagi-lagi kamu meminta izin sebelum parade itu terjadi.
Dan lagi-lagi, saya hanya mampu diam.
Ruang kita semakin berbeda.
Gaung kesakitan ku semakin jauh dari kepekaanmu.
Kamu masih hapal betul menyusuri kebun kecil rahasia kita.
Tetapi itu semakin mustahil.
Aku terbiasa lari ke sana, mencari peraduan.
Tetapi itu semakin sia-sia.
Kereta dan stasiun bagai mesin waktu untuk ku, tentang kita.
Dan dalam perjalanan yang melelahkan ini, aku bertanya sekali lagi, apakah dulu kita pantas untuk bersama?
Apakah aku masih boleh untuk menyesal?
5.11.11
Journey
I wish i was sitting on a moving train..
How i miss those moments..
train, station, journey, landscape, destination,
and someone who waited.
At least,
I know what place i want to go..
Ya, i have a destination through the journey.
An Ocean Apart
Now we are together. Sitting outside in the sunshine. But soon we'll be apart.And soon it'll be night at noon. Now things are fine. The clouds are far away up in the sky. But soon I'll be on a plane. And soon you'll feel the cold rain.
You promised to stay in touch when we're apart. You promised before I left that you'll always love me. Time goes by and people cry and everything goes too fast.
Now we have each other. Enjoying each moment with one another
But soon I'll be miles away. And soon the phone will be our only way.
Now I'm in your arms. Feeling pure love and warm. But soon I'll be alone. And soon your voice will change of tone.
You promised we'll never break up over the telephone. You said our love was stronger than an ocean apart. Time goes by and people lie and everything goes too fast.
Let's not fool ourselves in vain. This far away trip will give us pain. We'll have to be so strong. To keep our love from going wrong.
Distance will make us cold. Even put our love on hold. But soon we'll meet again. And soon it'll be bright at noon again.
You promised not to loose faith in our love when I'm away. You promised so much to me but now you've left me. We go by and then we lie and all this time we wasted. Time goes by and people lie and everything goes too fast.
Time went by and then we died and everything went too fast. Everything went too fast. Everything went too fast. Everything went too fast. (*Julie Delpy/Before Sunset)
21.4.11
Polemik Sarjana Teknik Lingkungan: Hanya Jagoan Neon?
Sebelumnya, selamat hari bumi untuk bumi dan manusia penghuni bumi juga penghuni lain alam raya yang terus bergerak. Anggaplah hari ini sebagai reminder buat kita bahwa, bumi ini bukan sekedar tempat kita menggerus segala kekayaannya dan terus meminta. Namun lebih dari itu. Dimana kita juga bisa melakukan banyak hal yang baik padanya.
Diantara penghuni bumi, ada segelintir sarjana Teknik Lingkungan. Ya, salah satunya saya. Kami belajar tidak banyak pada ideologi memang, lebih kepada cara. Bagaimana melakukan rancangan, pengelolaan, pengolahan, bangunan berkepanjangan, membuat limbah menjadi 'jinak' dan sebagainya.
Dewasa ini kita semakin sadar kondisi bumi semakin mengancam. Tidak terkecuali di dunia industri. Di dalam perusahaan yang bagus, pasti ditemukan divisi Lingkungan dan K3. Dan disitulah kami berdiri. Bagaimana kami ikut bertanggung jawab agar keseluruhan proses produksi berjalan dengan baik dan aman bagi perusahaan, pekerja dan dampak-dampak yang dihasilkan tetap 'ramah' lingkungan. Namun pertanyaannya, apakah kami benar-benar berjuang di sana?
Ini menjadi polemik. Ketika 'orang lingkungan' dalam sebuah perusahaan dijadikan tameng seolah-oleh perusahaan tersebut sudah 'ramah lingkungan' dan tidak mengabaikan dampak-dampak lingkungan yang bisa terjadi. Padahal kenyataannya?
Atau bisa juga, 'orang lingkungan' tidak benar-benar maksimal dalam 'memperjuangkan lingkungan' lewat perusahaannya tersebut. Karena satu, dua dan banyak hal. Bagaimana menurut anda dengan seorang engineer lingkungan di perusahaan yang jelas-jelas merusak alam?
Terkadang, seolah-olah kami seperti.. seorang jagoan neon. Kami berdiri untuk mengatasi hal-hal yang bisa merusak lingkungan namun di sebuah perusahaan yang menggerus alam tanpa ampun. Kami disuruh maju dan bergombal-gombal ria ketika aksi protes ditujukan kepada perusahaan kami.
Namun, tidak sedikit juga perusahaan yang benar-benar patuh dan peduli pada lingkungan. Perusahaan yang bertanggung jawab dari awal hingga akhir produksi. Dan berbahagialah di sana, wahai para environmental engineer.
Ini sedikit polemik bagi beberapa environmental engineer. Namun saya yakin, teman-teman saya selalu berdiri untuk memperjuangkan kebaikan lingkungan ditengah-tengah segala keterbatasannya.
Dan tanggung jawab kita kepada bumi, bukan hanya pada golongan tertentu, tetapi pada kita semua yang merupakan penghuni bumi.
Diantara penghuni bumi, ada segelintir sarjana Teknik Lingkungan. Ya, salah satunya saya. Kami belajar tidak banyak pada ideologi memang, lebih kepada cara. Bagaimana melakukan rancangan, pengelolaan, pengolahan, bangunan berkepanjangan, membuat limbah menjadi 'jinak' dan sebagainya.
Dewasa ini kita semakin sadar kondisi bumi semakin mengancam. Tidak terkecuali di dunia industri. Di dalam perusahaan yang bagus, pasti ditemukan divisi Lingkungan dan K3. Dan disitulah kami berdiri. Bagaimana kami ikut bertanggung jawab agar keseluruhan proses produksi berjalan dengan baik dan aman bagi perusahaan, pekerja dan dampak-dampak yang dihasilkan tetap 'ramah' lingkungan. Namun pertanyaannya, apakah kami benar-benar berjuang di sana?
Ini menjadi polemik. Ketika 'orang lingkungan' dalam sebuah perusahaan dijadikan tameng seolah-oleh perusahaan tersebut sudah 'ramah lingkungan' dan tidak mengabaikan dampak-dampak lingkungan yang bisa terjadi. Padahal kenyataannya?
Atau bisa juga, 'orang lingkungan' tidak benar-benar maksimal dalam 'memperjuangkan lingkungan' lewat perusahaannya tersebut. Karena satu, dua dan banyak hal. Bagaimana menurut anda dengan seorang engineer lingkungan di perusahaan yang jelas-jelas merusak alam?
Terkadang, seolah-olah kami seperti.. seorang jagoan neon. Kami berdiri untuk mengatasi hal-hal yang bisa merusak lingkungan namun di sebuah perusahaan yang menggerus alam tanpa ampun. Kami disuruh maju dan bergombal-gombal ria ketika aksi protes ditujukan kepada perusahaan kami.
Namun, tidak sedikit juga perusahaan yang benar-benar patuh dan peduli pada lingkungan. Perusahaan yang bertanggung jawab dari awal hingga akhir produksi. Dan berbahagialah di sana, wahai para environmental engineer.
Ini sedikit polemik bagi beberapa environmental engineer. Namun saya yakin, teman-teman saya selalu berdiri untuk memperjuangkan kebaikan lingkungan ditengah-tengah segala keterbatasannya.
Dan tanggung jawab kita kepada bumi, bukan hanya pada golongan tertentu, tetapi pada kita semua yang merupakan penghuni bumi.
19.3.11
Buram
Deretan angka dan huruf pelan-pelan menjadi buram. Berbayang.
Padahal aku belum bergerak sedikit pun.
Slayer merah yang tergeletak berantakan itu, sedikit basah.
Padahal aku masih tetap di sini.
Lagu-lagu yang tadinya terdengar keras, semakin samar. Lalu hilang.
Padahal aku belum kemana-mana.
Bumi yang tadinya tenang, seperti mengaduk-aduk.
Kemudian, aku tidak sadarkan diri.
Padahal aku belum bergerak sedikit pun.
Slayer merah yang tergeletak berantakan itu, sedikit basah.
Padahal aku masih tetap di sini.
Lagu-lagu yang tadinya terdengar keras, semakin samar. Lalu hilang.
Padahal aku belum kemana-mana.
Bumi yang tadinya tenang, seperti mengaduk-aduk.
Kemudian, aku tidak sadarkan diri.
Subscribe to:
Posts (Atom)