Pages

If there's no orange in the sky, i do try enjoying grey: I am a delusion angel.

11.4.15

Distance



I let myself away from all those commotion. Watching you from a distance.

You're like a whispering breeze that I could never reach, only to see you went away.

Let me be here once more, to see you again. Before you're fading.

There'd be dark after dusk.
There'd be a goodbye after a sweet encounter.
... and emptiness after joy.

Sometimes, the wheel spins so fast. Beyond consciousness.




======
From the Coffeeshop Art Series
Me on words
Aditya Wicaksono on sketch and drawing


Disappear



Then, everything would be a memory.
A reminiscence of an old story.
There, it'd seem blurry.

What happened to you happened to me. I had it and I lost it.

But you chose to hide in the dark.
And you disappeared...




=====
From the Coffeeshop Art Series
Me on words
Aditya Wicaksono on sketch and drawing

9.12.14

Puisi Gerimis



Aku pikir dia yang datang. Gerimis.
Saat terdengar irama rintik-rintiknya jatuh di genangan air, nafas ku tak beraturan. Rindu ku membuncah.

Tetapi bukan.

Betapa sepinya di sini hingga aku bisa mendengar gesekan daun kering yang enggan dibawa angin entah mau kemana.


Paradoks Malam

Hidup ku penuh goncangan sayang. Menurut ku begitu. Tapi itu yang membuat ku semakin tangguh.

Tuhan sepertinya enggan berlama-lama memberi ku pelajaran hidup. Satu hal berubah dalam hidup ku di siang hari yang bolong dan hal-hal lainnya menyusul kemudian. Membuat ku jatuh, sendirian.

Ada pada masa ketika aku memilih berjarak karena pikiran ku terlalu rumit. 

Sementara teman-teman sebaya ku tersipu malu karena kasmaran atau menangis tersedu-sedu karena akhirnya mengenal kejamnya patah hati.

Aku membangun pagar yang aku harap kokoh untuk itu semua.
Sampai tiba di satu fase, aku mulai memahami satu persatu.

Hidup adalah apa yang datang, terjadi, dan pergi.
Aku sedikit bergidik saat menyadarinya. Semuanya ternyata begitu semu.

Tapi aku lega, aku bisa mengikhlaskan kematian.
Aku bisa melepaskan apa yang sudah seharusnya pergi.
Aku mulai mengerti polanya.
Ah, Tuhan..

Saat itu aku sudah belasan tahun.
Terlalu banyak yang aku serap. Macam-macam kejadian aku sebut pertanda. Tapi juga tidak jarang aku memilih menghindar.

Aku begitu serius, kaku, dan penuh waspada, sayang.
Mereka bilang air muka ku penuh teka-teki.

"Ada apa dengan mu? Apa yang terjadi? Apa yang berkubang dalam kepalamu?" Tatapan mereka seakan melontarkan itu semua.

Tapi aku pandai tertawa, sayang. Meskipun sedikit sulit menata senyum ketimbang mengerutkan alis. 
Aku membungkus kekhawatiran ku dengan cukup baik. Aku terlihat baik-baik saja.

Namun dalam diam ku dan lamunan ku yang terlalu banyak porsinya, aku kerap bertanya-tanya soal hidup. Hidupku yang paradoks.

Saat ini, di tempat ku berdiri, aku bersyukur melewati itu semua. Ada yang tidak sempat aku genggam kadang teringat bersama sesal, tapi meskipun aku masih menyimpan banyak pertanyaan, aku merasa semakin utuh. 

Setidaknya, aku bukan manusia yang sia-sia melewati makna yang bertebaran, yang sering kali dilupakan mereka. 


Aku terus berjuang mencari jawaban dari hidup yang begitu lucu.

Puisi Biru

Laut Flores


Aku ingat betul; Biru.
Sulit mengartikannya.
Mungkin karena dia mengaduk-adukkan kesedihan pada kebahagiaan.
Dan garis-garis cahaya yang berkilauan di permukaan laut itu..
Membawa ku pada memori, yang entah pernah terjadi. Atau hanya ilusi?

Laut. Membuat ku tidak bertapak.
Menenggelamkan ku pada ada dan tidak ada sampai aku terus terbawa ke ujung negeri senja. Dimana semua perasaan itu bermuara.
Kegelisahan sekaligus kesenangan.
Kebahagiaan yang hampir tidak berjarak dengan kepedihan.


Dimana kita semua tersesat di putaran rasa.. 


Puisi Ragu

Aku tahu ada ragu.
Menjelma jadi debu yang tidak bisa aku cerna. Aku mendengarnya.
Menyelusup ke celah-celah, ke setiap pori-pori. Menyesakkan dada.

Seberapa pun aku ingin melihat jauh ke sana, ragu mengaburkan pandangan ku.
Aku lumpuh bersama ragu.

Aku merasakan ragu.
Rasanya tawar, mencegah rinduku.

Akhirnya, rinduku menguap menjadi sendu.

17.11.14

Di beranda..



Sekelebat pantulan di jendela melintas cepat, seperti waktu kita.
Sebelum aku mampu memaknainya.

Seperti gerimis yang tidak aku sangka-sangka datang,
kamu menyeruak di beranda ku, tak lama setelah matahari terbenam.

Sore ku tidak pernah lagi sama.
Malam ku menjadi bimbang.
Ini yang aku tunggu sekaligus aku takut mengakuinya.

Lamunan ku buyar.
Di beranda ku, aku masih di sini, menunggunya datang lagi..



Kamu



Semuanya fana, begitu pun kebahagiaan.
Maka aku ingin membungkusnya dalam kata-kata,
Menyimpannya dalam ruang bernama "kamu".

Aku baru saja berbisik pada angin.
Berharap ia menceritakannya padamu.



3.10.14

Ranting-ranting..



Ranting-ranting tak pernah mengeluh saat daun-daun meninggalkannya, pergi bersama angin. 
Ia tahu, mungkin itu memang sudah seharusnya terjadi.

Cerita berwarna pastel yang sedikit muram..

                                                               Foto: Hanna Rengganis

Pada sebuah waktu, ada dimana ketika kita mengenang cerita masa lalu itu. 

Cerita berwarna pastel yang sedikit muram.

Kita membawanya ke atas sebuah bukit. Menebarkannya ke hamparan padang rumput.



Seingatku, kenangan hanya cerita yang terus kita ulang. Tapi kenapa aku tidak pernah bosan?

Kadang, aku memilih memejamkan mata agar waktu kita lebih terasa lama.
Saat itu juga aku bisa mendengar degup jantungku yang bergerak cepat seiring waktu yang terus berdetak.



Waktu memang tidak punya pertimbangan.

Termasuk memperhitungkan cinta ini yang tidak pernah usang. Tidak kah ia bisa merasakannya?


"Pagi ini saya memungut jejakmu yang masih tertinggal," katamu, pada sebuah pagi yang tidak bisa ditolak.

Pagi yang membuat waktu kita telah hilang lagi.


Tidak ada lagi padang rumput, tidak ada lagi taman, dan bukit. Tidak ada lagi yang bisa aku pandang. Dan tidak ada yang pernah mengerti.