Pages

If there's no orange in the sky, i do try enjoying grey: I am a delusion angel.

5.12.12

Percakapan

"Sekarang waktunya kita kembali ke ruang masing-masing. Kau telah merampas malam ku. Sekarang, biarkan aku mengamatimu dari balik sekat jendela yang disesaki bulir-bulir air sehabis hujan. Aku akan di sini saja, duduk, menikmatimu dari jauh. Kau, mungkin, pergi dengan payung hitam itu. Aku di sini saja, di dunia ku," katamu, di suatu malam yang katamu telah aku rampas.

"Pergi? aku pun akan di sini saja, di sudut yang biasa. Kau tahu, sambil menunggu setiap sore. Aku pandangi siluetmu, mengingat-ingat kehangatan itu. Tak ada lagi gejolak, namun belum saatnya aku beranjak, senja. Kenapa? Aku pun tidak tahu. Oh ya, aku baik-baik saja," kataku, di sebuah sore yang telah kau curi.

Lalu lalang orang-orang pun tak pernah mengerti apa yang dua orang itu tunggu. Mereka bahkan tak ingin memahami, karena kisahnya terlalu perih.

Perayaan si mesin waktu..

Kehangatan terasa saat dua orang itu saling berhadapan. Kehangatan yang abadi. Tawa sumringah berderai-derai, kemudian menusuk setelahnya. Nostalgia itu tak bisa lama-lama, mereka diburu waktu. Ah, waktu memang selalu memburu mereka, seakan-akan bisa membunuh kalau saja mereka ingkar. Ya, sebegitu kejamnya waktu pada mereka.

Di tempat yang sama, mesin waktu kadang timbul membawa pusaran masa silam. Saat itu, mereka harus mengucapkan pisah. Tak ada pilihan. Air mata bukan lagi pertanda, karena sudah habis sebelum-sebelumnya. Pelukan hangat sebelum mereka harus ke ruang masing-masing lah yang terbawa lagi saat itu. Manis sekali.

...
Ini hanya memori, yang kadang-kadang aku buka. Tetapi kamu tenang saja, ia tak pernah usang. Tak akan aku biarkan. Namun, tidak juga akan aku hadirkan. Biarkan itu menjadi ilusi kita saat ingin merayakannya. Yang merampas malam-malam kita sesekali saja.






Bandara Ahmad Yani, sehabis senja, 2012.

Jamuan nostalgia

Di atas negeri senja, pada sebuah sore yang penuh makna. Mari lah kita angkat gelas-gelas kerinduan, sebelum kita teguk tak tersisa, tak berulang. Inilah jamuan nostalgia yang selalu aku tunggu-tunggu....bersamamu, memori..



















Mengalir lah..

Keindahan akan terus mengalir deras jika tak ada kata memiliki.
Maka mengalirlah..
Jangan kau berlabuh di sini.
Biarkan aku menyaksikan liukan liukan itu
dan menebak-nebak makna apa yang tersirat.
Aku akan merindukan percikan percikan itu. Tentu saja.
Tetapi bukan itu yang aku butuh.
Aku tak ingin terikat, apalagi diikat.

19.11.12

Kita (kesekian)

Kita memang terpisahkan oleh bilik jendela.
"Engkau adalah kedekatan yang terasa jauh. Sangat jauh," katamu, suatu hari.

Selama kita masih dapat saling melihat, meskipun hanya dari balik etalase jendela, aku tak apa. Kira-kira begitulah jawabanku kala itu.

Di sudut sini aku menikmatimu sembari menyeruput teh poci. Kadang kopi. Dan aku melihat kamu menenguk - kadang air putih, kadang bir, kadang juga secangkir cokelat panas. Entah kenapa itu saja bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri.

Meskipun aku sibuk membaca, aku juga tahu kamu memperhatikanku dengan seksama, sambil menerka-nerka, mungkin.. buku apa gerangan yang menyita perhatianku itu. Kerlingan mata tajam itu, tentu saja tak mungkin aku lupa.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Suatu malam, hujan mengguyur tempat kita. Begitu deras.
Jadilah jendela-jendela itu berembun, timbul tetes demi tetes air yang menyamarkan pandangan kita.
Aku tak dapat lagi melihat sosokmu dengan jelas.

Namun, aku cukup mengingat, bahwa kita sepakat, harum bau tanah sehabis hujan ini adalah beribu-ribu rasa tentang kita.

"Aku terus mengingat kenyamanan itu," katamu sebelum menjelma menjadi siluet, yang tak pernah tertangkap lagi.

Macet

Sumpah serapah melengking tanpa suara, di udara.
Udara yang terpolusi NO2 dan CO itu pun memampatkan nafas.
Ditambah sengatan matahari bagai mencekik leher, 
membakar kepala yang sudah dibasahi bulir bulir keringat sia-sia.
Semuanya membuncah dalam tumpukan kendaraan yang tak beraturan.
Di sebuah jalanan Jakarta yang banyak lubang.
Dan manusia-manusia yang sudah lupa akan kesabaran.

29.10.12

Berfilosofi tentang kopi

Di perbatasan antara timur dan selatan, saya menemukan "rumah" kesekian.
Rumah utamanya adalah, sahabat lama saya.
Dan yang tidak saya duga, tokonya, melarutkan rindu, cerita, obrolan, kisah, bahkan diam dalam racikan yang begitu....sedap rasanya.

Disaksikan berderet-deret alat peracik kopi yang berjejer rapi, lalu lalang orang berfilosofi soal kopi, baik itu dengan menterjemahkannya dalam kata-kata atau seruputan di sore yang baru disiram hujan.

Kurang nikmat apa, saat mereka membicarakan kopi, mereka disuguhkan segelas cairan hitam yang membuat mereka datang ke situ, ke Philo Coffee. Mereka, termasuk saya, bisa menyaksikan sendiri sejak biji-biji kopi itu dihancurkan, diracik, dan siap diseruput......dan tanpa gula!






Bergelas-gelas "teh poci"

Entah kenapa, aku begitu menggemari teh poci.
Pahit sih, tapi disitulah nikmatnya.
Boleh lah aku taburkan sedikit gula, untuk penawar.
Tetapi rasa pahitnya akan datang lagi,
lagi, lagi.. lagi.....
Sepahit kenyataan yang aku minum, kamu teguk, kita habiskan bersamaan.

Kita sibuk berargumen, merumuskan kata-kata penolakan.
Tetapi sungguh, itu melelahkan.
Bagaikan meminum teh pahit ini, sedikit demi sedikit, kita ketagihan.
Saat aku melontarkan sumpah, "Hanya satu gelas saja!"
Sesudah itu aku tahu, aku tak bisa berhenti.

Tidak perlu kita mengakui bahwa kita sama-sama ketagihan.
Karena, "bergelas-gelas teh poci" yang berserakan di meja ini sudah cukup membuktikan.
Sementara, restoran ini sebentar lagi tutup.
Aku tahu kamu enggan beranjak, dan andai kamu tahu..aku pun ingin waktu tak gerak.

"Satu teko lagi, mas!" teriak kita pada pelayan.

Senja, aku, malam

Senja,
aku baru tersadar satu hal.
Segala keindahanmu yang menyilaukan ku, menarik ku pada kebahagiaan yang tak terdefinisi.
Bersamaan dengan itu, aku selalu belajar membebaskanmu, dalam setiap ujung sore.

Namun ternyata senja,
bukan kamu yang mengajari ku untuk belajar melepaskan.
Bukan kamu. Tetapi malam, ya, malam.
Dia yang merenggutmu, tetapi juga mengajarkan aku untuk membebaskanmu.

Maka, di sinilah aku. Bersembunyi dari balik jendela.
Kini aku tahu, aku tak harus menikmatimu dari barisan terdepan, dimana kamu selalu tahu ada aku di situ.
Aku selalu bisa menikmatimu, lewat sentuhan angin atau terpaan cahaya sore dari tempat yang tidak pernah kamu tahu.

Mungkin aku siluet yang bergerak-gerak itu,
Mungkin aku bayangan yang mengendap-endap dari  sebuah warung kopi atau gedung yang menjulang.
Mungkin aku gumaman yang bergaung di ujung gang, berbisik tak jelas.
Kamu, senja.. tidak perlu tahu.
Karena aku telah membebaskanmu....kepada malam.


16.10.12

Sajak dari balik jendela

"..Kutatap senja keemasan itu dengan perasaan yang rawan. Aku tidak mengerti, mengapa hatiku selalu merasa rawan setiap kali senja tiba. Senja ini juga membuat hatiku rawan. Apakah karena senja selalu seperti sebuah perpisahan?.." SGA

Saya coba bayangkan begini. Saya kembali melukis, namun diatas kanvas yang sudah tidak jernih lagi. Saya goreskan kuas dengan sembarang warna, dengan ragu. Kemudian saya berpikir. Tidak, sebenarnya saya tidak sedang berpikir sungguhan. Saya coba merasa, mengenang, dan saya kembali gagal.

Saya gagal menahan diri untuk tidak menorehkan apapun diatas kanvas itu. Tetapi mereka bertanya? "Kapan kamu melukis lagi?" Saya tidak peduli. 
Sampai akhirnya saya tahu ada yang tumbuh diam-diam menelusuk pagar yang mulai karatan itu. Memakannya, pelan-pelan, hingga hancur lebur, tak dapat saya bentuk lagi. Lalu saya dapati kosong yang mulai merayap.

"..Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam.." SGA

Saya hentikan gambar yang mulai absurd ini meskipun saya dapati warna yang tidak hanya hitam dan putih. "Kanvas ini begitu sempit" katamu, pura-pura tidak tahu. Sementara kamu tahu, saya benci apa saja yang disebut pura-puru dan menelan ironi realita bahwa saya pun sedang berpura-pura.

"..Senja begitu indah, tapi begitu fana - apakah segala sesuatu dalam kehidupan ini memang hanya sementara?" SGA

Dalam goresan ini, saya tahu ini begitu fana. Lukisan ini pun tidak akan abadi. Suatu saat entah akan dilukis apa, berwarna apa. Atau mungkin tidak berwarna? 
Mungkin saja. Karena yang pasti adalah, kamu yang fana.


*Tertanda:
Di atas awan bersama tuturan SGA. Pada sore kesekian, hanya jendela dan lagi-lagi tanpa senja*

11.10.12

Opera Alam

Kamu bisa bilang malam begitu keji
Karena memanggil romansa yang ingin kau tepis.

Tetapi siapa sangka?
Pagi tidak secerah harapan yang sudah kamu bungkus kemarin.
Ia juga bisa ingkar.

Namun, siang yang suram memang paling keterlaluan.
Padahal kamu sudah kehausan dan tak lagi membawa sisa harapan,
Hanya ratapan.

Tunggu dulu.
Mungkin jelmaan sore bisa menggiringmu untuk bangkit pelan-pelan.
Meskipun hanya sekedar menyaksikan siluet bayang bayang kenangan.

10.8.12

Kabut prasangka

Bersembunyi dari yang mencari, mengejar pada yang terus berlari. Begini lah terkadang hidup, menguntai kusut, tak berbentuk.

Lalu kita bertanya, kapan terjadi pertemuan jika kita berada pada arah yang berbeda. Jika kita terhalang kabut prasangka. Atau jika berpura-pura bahwa rasa tidak pernah ada.

Angin pun akhirnya menyerah memberikan arah pada dua manusia yang saling berdusta. Tenggelam bersama rasa yang disimpan.

Mendustai intuisi, dan hati, dengan penuh perih dan lirih. Akhirnya pergi.. Melebur pada rasa sendiri.

Menggapai-gapai makna agar terus mampu berdiri. Melupakan luka yang tersakiti, mencari puing-puing untuk bangkit kembali.

Lalu senja memerah, langit muram, pagi terasa kering. Musim telah berganti, namun kasih tak pernah mati.

Angin membisikan kata, semesta mengirimkan tanda. Keduanya kembali bersua, tidak sengaja.

Hati tak mampu lagi menyembunyikan jeritan yang tak pernah berbunyi. Sunyi, tiba-tiba sunyi. Hanya ada rintihan bahagia dari dua orang yang saling mencintai.

Tersenyum saling mengerti, pada jarak beberapa senti, mereka berhenti. Melepaskan kabut prasangka pada angin, entah dibawa ke ufuk mana..

20.6.12

Pantulan jendela

Sebuah perpisahan bertemu dengan jendela. Hamparan kehidupan di luar sana seolah menjadi hantaman pada fakta bahwa.. Di sini begitu sunyi dan hampa.

Satu persatu apa yang melekat, terpaksa pergi, atau memaksa pergi, atau memang harus pergi. Menarik perih dan berbekas.

Saya tertawa sebelum memasuki ruang hampa ini. Setelah amarah yang terburai. Meninggalkan penyesalan. Setelah semuanya meledak dalam waktu sekejap, timbul keletihan. Kadang ada saatnya dimana kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali, diam. Dan saya, di sini, hanya bisa menyeka air mata. Memandangi diri dalam pantulan kaca jendela.

Dan begitulah, pada akhirnya saya selalu menyukai jendela disudut mana pun. Yang selalu mengingatkan saya, bahwa setiap manusia dipisahkan pada masing-masing dimensi 'fase' yang berbeda. Yang akan hadir pada lamunannya seorang diri, pada pantulan di jendela. Bahwa hidup itu sendiri, entah saat jatuh dan bangkit.

*on my own way to destiny

26.3.12

Coffeeing

 What do you prefer, coffeeing alone or with someone?


I'd answer.. alone. It's a paradise when you have a cup of coffee by yourself, take a window seat in the corner of coffee shop, dive into your self while you dive into the black coffee inside..far..far away.

When you look deeply at a cup of coffee, there is a time machine whom could bring you to the old memories or maybe.. delusions.




But, sometimes, it's good to have conversation during coffeeing.

Laughter while the smell fumes billowing off a nice hot coffee. 
Freedom when you sipping a cup of coffee. 
Solitary moment when you stirring the black coffee. 

I leave for a while coffeeing alone and i have it all, with my beloved Environmental Engineering 2005's folks at Kopi Joss, Jogjakarta.



























Ms. Sunflower

Foto: Afif Saputra 

Hahaha.. 
Sorry for being a bit narcissistic showing you pics of myself. 
But, do you see "the happiness" on my face, pals?



Why sunflower? 
My dear friend of mine asked me. 
That was an absurd question. Somehow, he took me to the florist.


  

My dear friend of mine, 
Sunflower is the magical thing that i can enjoy its yellow, its fiery blooms, 
and it always hypnotize me into a room of happiness.

As you told, 
Sunflower is a symbol of fidelity. 
It always follow the sun from east to west, from sunrise until sunset, 
each day. 


                                                                     

Words can't describe how i feel. 
The beautiful things inside blow me away.. 
to the Neverland, my dreamland.

Me blooming like a sunlower.
Me can't stop smiling.
That magical moment flew me away to the highest orange sky.

I was so happy for had a sunflower in my hand. 
In every muse, i always dreaming it. 
This... 
Go to the florist, 
buy sunflower, 
keep it in my hand, 
go to the silent garden or park, 
feel the wind..
and with the backsound of france song.


 L'Amoureuse - Carla Bruni

U made it. So this writing is special for you, dear friend of mine.
For always remember all my "Sagarmatha" and for those france songs.
Enjoy.. :)


11.3.12

"Meditation"



So, Meditation is recreation of mind. It means, meditation is not only about sit comfortably with back straight in solitary moment, free mind, stay in relax, breathing in and out slowly, take a deep breath..or.. whatsoever, how do you say it?

Biking is meditation. Sort of.. hahahaha. Dunno why, i just surrounded Menteng, felt the wind, went to Taman Suropati and Taman Menteng, had afternoon muse and conversation. (not monologue at that time..hehe). I had a fun! But yeah.. i had no a chance to buy a sunflower at Cikini, Someday i'll make it!

Anyway, then, i created what i have been thinking about "my lil dream" that stay forever in my head. Bike, Coffee shop, window, sunset, muse, convo, aaahhh i know you know what i mean. It's like pieces in a movie or novel (Migod...)

So, after i had biking around, i stopped by to a coffee shop. I took a window seat. I stared out the window. I was sipping my tea, enjoyed my foods, had conversation with dear friend of mine, and thats all! Yeah, dying to have those activites in all my days.. i have to go abroad! Wearing coats and boots everyday..wow! :p






Memori usang

Apa yang terjadi sekarang, pada suatu hari nanti akan menjadi memori yang usang.
Bahkan terekam samar, dan asing.
Lama kelamaan, ia akan menjadi serpihan debu, yang terbawa angin.
Entah dibawa ke ufuk mana..

Menyadari itu, saya ingin membebaskan diri dari segala macam keinginan. Bukan berarti tidak punya tujuan, hanya membiarkan semua pada porsi yang tepat.

Namun bagaimanapun juga, "memori usang" itu menjadi bagian yang mengantar kita pada perjalanan berikutnya. Mungkin bisa menjadi bekal. Atau sekedar peringatan.

Maka, jika takdir dan alam semesta belum mendukung, kenapa harus memaksa atau gelisah?
Biarkan semua terjadi sebagaimana seharusnya, pada waktunya.


Memory is a wonderful thing if you don't have to deal with the past.

 
A waltz OST. Before Sunrise - Julie Delpy

6.3.12

One night.

Folks, have u ever felt something that not happened yet?
Or, have you ever felt like something good was going to happen?
Ah, or maybe u felt nostalgic about something that never happened?
Or, oh well, just name it all.. delusion.

However, i made a love poem while those feelings inside my mind.
I tried to remember my besties's faces when they were in fall in love.
And i created my illusion for one sweet moment.

Suddenly, only this sweet song caught in my head, by my fave singer, Hail Paul McCartney!!
And this is.. a simply love poem, hopefully, complements that song.

                                    This Never Happened Before. OST The Lake House - 
                                                                                 Paul McCartney

One night
There's a sun flower on the table
There's two cup of coffee
There's a large window beside us
There's people out of there, outside
But we don't care

One night
There's no conversation
There's only our eyes look each other
There's time ticking
There's we enjoying each moment
And we are together

One night, we are in pure love and warm and time goes by, but we don't care, we just don't care.




29.2.12

Jingga pelangi..

 
Silent Jingga - Video by Perwiranta  


"Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan" - SGA

Hujan mengalah pada sore. Awan menyingkir pelan, menggiring abu-abu ke dalam persembunyian. Ada kejutan pada sore itu bagi kaum perindu. 

Semburat jingga mencuat, menembus jendela gedung-gedung bertingkat yang masih belum kering oleh hujan. Bahkan, dari balik sisa-sisa air yang menempel di jendela, terpancar titik-titik jingga.

Langit yang muram menjelma bagai negri senja yang menghadirkan potongan-potongan kebahagiaan bagi ribuan pasang mata. Waktu berhenti seketika. Semua terpana melihat senja yang menyapu langit dengan jingga, seutuhnya.

Itu belum selesai. Lalu, senja membawa pelangi dari kayangan. Pelangi menari, menyodorkan berlipat-lipat kebahagiaan untuk kaum-kaum suram. Kilatan mata gembira terpantul dari balik kaca. Waktu masih belum bergerak. Mereka masih sulit percaya, senja hadir bersama pelangi. Atau mereka terlalu terpana, untuk mengingat makna percaya.

Mungkin kah itu fenomena, atau itu bingkisan istimewa dari semesta?

Langit langsung menjelma menjadi mesin waktu. Kepingan-kepingan kenangan, bahkan harapan melintas saling beradu. Kebahagiaan yang melesak-lesak menyeruak bersama kehampaan. Impian lahir seiring kehilangan.

Lalu gelap, bagai ombak, menyapu jingga, menelan pelangi. Waktu bergerak. Para manusia masih terdiam, hingga langit kosong, hanya diisi kelam. Dan kemudian sadar, perpisahan akan selalu datang. Lukisan jingga pelangi di langit barusan, bagaikan analogi kesemuan.

Akan selalu ada gelap, setelah jingga. Akan selalu ada perpisahan, setelah pertemuan. Akan selalu ada kekosongan, setelah kegembiraan. Terkadang, putaran itu terjadi cepat, melampaui ambang kesadaran.

C'est la vie.....



23.2.12

om shanti shanti shanti..

Entah kenapa, seandainya punya tattoo, yang terbayang oleh saya adalah lambang Omkāra. Awal obsesi saya dengan lambang suku kata 'keramat' dalam agama Buddha dan Hindu itu, berawal dari  kalung berlambang OM yang diberikan sahabat saya bertahun-tahun yang lalu. Maka kalung itu kini menjadi sangat belel karena saya terus pakai..hahaha. Satu lagi, dalam OM saya selalu ingat masa-masa setiap hunting foto saat perayaan waisak di Borobudur... ommmm...ommmm...ommmmm bergema, bergaung, sangat merdu. Dan suatu hari, saya meliput acara kebudayaan India. lalalallalaa...Jadilah tattoo-tattoan dari mehndi, berlambang Omkāra!

om shanti shanti shanti..
Peace in body, speech, and mind. Adhi-daivikam, Adhi-bhautikam, Adhyatmikam.

Things Have Changed

.....
People are crazy and times are strange
I'm locked in tight, I'm out of range
I used to care, but things have changed


Malam kemarin. Sudah pukul tiga lewat, dalam pejaman mata, saya melihat bulir-bulir halus terbang menembus gelap yang tak berujung. Delusi gila itu berlanjut ketika kepala saya seolah-olah meleleh, bergabung bersama mereka menyusuri gelap, menyusul kemudian utuh badan saya yang bergerak bagai casper. Dalam setengah tidur, saya masih bisa merasakan kepala saya yang sakit luar biasa dan masih bisa terpikir, "mungkin ini karena selalu tidur pagi akhir-akhir ini."

I hurt easy, I just don't show it
You can hurt someone and not even know it
The next sixty seconds could be like an eternity


"Jadi, sekarang teman ngopi kamu siapa?" kata suara di sebrang telepon, sore itu.
Pertanyaan sederhana itu, entah kenapa, terngiang-ngiang hilir mudik ketika merindu tetes demi tetes waktu ngopi bersama teman-teman insomnia saya di Semarang. "Sudah tidak ada.."

Dulu saya masih berstatus mahasiswa, sedangkan mereka para wartawan yang mencoba menguapkan kepenatan mereka, dengan kopi, bir, kentang, kartu, rokok, obrolan, bahkan lamunan (untuk kepentingan pencitraan, saya bukan beers and cigarettes junkie..ehem).

Kami cukup konsisten, untuk menetapkan River View sebagai peraduan malam, dan kami cukup solid, bahkan hingga sekarang. Kadang saya berpikir, secara sengaja atau tidak, mereka lah yang membawa saya pun menjadi wartawan (lupakan kalau itu jebakan batman *bergumam*), meskipun nyasar di tulis bukan foto. pfuh.

Namun, Toko Oen, Warung Sedap Malam, pinggiran Polder Tawang, juga punya arti sendiri untuk saya. Kentang dan Eskrim Toko Oen yang bikin meleleh, juga suasananya yang klasik menjadi saksi bisu memori utuh saya menjadi 'lebih utuh', lebih dari sekedar nongkrong.

Lalu wisata Galeri. Minimnya galeri seni di Semarang membuat saya jengkel, namun saya menjadi rajin untuk datang di setiap acara pameran, seringnya tentu saja di Rumah Seni Yaitu dan Galeri Semarang. Meskipun saya kurang suka dengan rata-rata pengunjung pameran yang memiliki pose sama, dengan "mereka-mereka" yang kadang sok-high level dalam menuturkan karya, dan kumpulan-kumpulan komunitas yang merasa paling-iyess, namun aku hanya berkata peduli setan (lah...gw jadi nyanyi lagunya The Adams gini).

Gonna get low down, gonna fly high
All the truth in the world adds up to one big lie
I'm in love with a woman who don't even appeal to me


Lalu saya pulang kampung ke Jakarta. Kafe/warung kopi, galeri seni, jangan tanya banyak dan variasinya lah. Setelah sempat tersiksa bagai robot (secara rumah gw di pinggiran Jakata), saya pilih kos di jantung kota. Namun apa? saya tidak lagi tuh, meminum malam hingga pagi dengan ngopi di warung kopi, atau memburu pameran-pameran di galeri seni. Sekedar bertemu kawan di warung kopi itu pasti, karena begitulah gaya metropolis, namun itu tidak sering dan sebentar. Man, saya kehilangan partner. Atau karena rutinitas kerja dan lalu lintas Jakarta yang ganas? Ah, masa saya harus cari kambing hitam sih.

Mr. Jinx and Miss Lucy, they jumped in the lake
I'm not that eager to make a mistake


Dalam senandung Bob Dylan yang mau habis ini, itu lah sepotong memori kecil yang sudah usang. Hingga sekarang, saya masih rajin membersihkan debu-debunya, ketika saya bertemu dengan pagi, dengan suktara, dalam kesunyian sudut kamar, dan musik yang bersenandung bosan.

People are crazy and times are strange
I'm locked in tight, I'm out of range
I used to care, but things have changed 


{Humming Bob Dylan's - Things Have Changed}



16.2.12

Segelintir syair menjelang #Suktara

Dibalik gerombolan orang lalu lalang, komat kamit tanpa suara. Dalam hitungan inchi, kehidupan terbelah dua.

Ia enggan keluar, memilih menjadi tempat peraduan. Saat orang-orang acuh tak acuh, lalu lalang, ia bisa melihat semuanya. Jelas.

memisahkan dua kehidupan. Kebisingan dan kesepian.

selalu setia di balik kaca usang itu. Dia lah saksi bisu sang empu yang kadang melupakannya.

akan menjelma bagai peri, saat sang empu meraung-raung, mencarinya. Lalu ia pancarkan cahaya kuning yang menghangatkan.

Saat oranye dan abu-abu bertemu, ia tau bahwa itu hanya

Memintal , jika tidak hati-hati, kau akan tertusuk sendiri.

memang tidak pernah membosankan, begitu pun ia yang tidak pernah bosan untuk pergi tanpa pamitan.

Tetapi mungkin tidak kemana-mana, ia hanya tersembunyi dibalik dekapan gelap.

apa dosamu? Mungkin karena apa yang engkau bawa?

Alam semesta begitu kaya akan . Mengapa engkau masih meragu saat silau oleh bias yang berdusta?

Senja terlewati, tetapi #Suktara akan hadir seiring pagi :)

"Penyesalan adalah bunyi tanpa makna"

"Penyesalan adalah bunyi tanpa makna"

Sepotong bait "Jurnal Mimpi" Divakaruni yang saya baca dalam kereta menuju Kutoarjo yang melaju bosan di atas rel tua, terngiang-ngiang, dan terus saya baca ulang. Dia benar.

Kepingan-kepingan memori hadir bagai sekelebat sawah yang terlintas cepat di balik jendela kereta. Rangkaian cerita impulsif yang hanya-meninggalkan-ruang-kosong-berisi penyesalan-disusul-umpatan-pembodohan-diri, terkumpul dalam kantong yang usang. Mengingat itu semua, perut rasanya bergejolak, saya ingin hilang ke dalam perut bumi, lalu bangkit lagi dalam sosok yang asing.

Namun, diri saya yang lain mencoba membela diri. Semua orang pernah tampak bodoh dalam pikiran dan tindakannya yang impulsif. Dan itu fase. Namun, sebagian diri saya yang lain masih bersikeras ingin ditelan alam semesta, digodok menjadi jelmaan baru. Irasionalitas, menelusuk dalam setiap relung. Kita pernah salah, pernah memilih yang salah. Kamu pernah begini? Dan kamu belajar kan?

1.2.12

Membuncah

Di malam yang sepi ini, saya menengok sekilas ke belakang dan mendapati angin dingin yang kehilangan kasih. Ia meliuk bebas dengan kencang. Memaksa daun-daun jatuh, memisahkannya pada pohon-pohon yang menyayanginya.

Namun, mereka hanya diam, memaklumi bahwa angin dingin yang mendamba kebebasan itu, sudah tak mampu mendengar bisikan rasa. Ia terlalu angkuh untuk melihat apa saja yang sudah diberikan siapapun kepadanya. Semua masih menyayanginya. Mereka hanya mengamati, menerka, kapan angin dingin ini mau menyapa tanah yang tak pernah ia sentuh, dimana semua berpijak.

Entah kapan ia mau menyapa daun yang pernah ia buat terbuai dengan hembusannya, lalu ia gugurkan, ia  biarkan jatuh tak terarah, dan ia tinggalkan tanpa pesan, kecuali kenapa yang tak bisa ia jawab. Ia bahkan tidak pernah sadar apakah daun itu mengering atau terdampar di semak belukar.

Ia hanya peduli pada ujung langit yang terus ia kejar. Hingga ia semakin tinggi, semakin tidak peduli. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu berbagi. Ambisi menyelimutinya hingga hanya ada dia dan hal apapun yang dia inginkan. Ia rampas, ia hempaskan, ia lupakan.

Ia hanya bisa membawa hujan deras yang tertahan dalam awan gelap yang ia rajut. Ia tidak mengerti itikad lain, selain lenyap, dan menerpa tempat lain yang ia temukan.

Di padang ilalang ini, hanya ada saya dan kesejukan. Hembusan angin sepoi-sepoi, dan tidak ada lagi dingin yang menyusup ke pori-pori terdalam. Ia semakin jauh, buram, dan saya kembali merasakan kehangatan, bahkan kala malam menyergap.


25.1.12

terburai

Malam-malam ku hanya diisi oleh kata-kata yang terburai.
Saat itu, aku ingin mencabik-cabik malam,
agar cepat ku dapat terang.

Tunggu, jangan dulu terang.
Benang kusut semakin absurd.
Rangkaian kata-kata belum terbentuk.
Aku hanya mampu melukis bimbang di udara.