Pages

If there's no orange in the sky, i do try enjoying grey: I am a delusion angel.

16.8.14

Taman rindu...

                                                              


Aku dibawa rindu ke sebuah taman.
Taman kecil yang usang, yang telah engkau tinggalkan.

Hanya ada suara angin berbisik,
Bagaikan bait kata-katamu yang sering mengusik.

Aku kumpulkan potongan demi potongan kenangan,
dalam ceceran daun-daun kering yang sudah kering kerontang.

Saat itu sudah sore.
Tapi, aku masih ingin berbaring di sini saja
Menikmati rindu ku yang merayapi luka..




4.8.14

When we go back to our room

Time flies and everything goes too fast. 
We have all life changing experiences. 
But, when we go back to our room, we feel, like, nothing has changed. 
Those moment by moment that flows by are just not the same. 
Sometimes, things ain’t what we used to be. 
Well, maybe, things have changed but we don’t.

15.7.14

Dalam lamunan..

Temukan aku di sudut kafe itu.
Aku melihat dari balik etalase jendela, kota ini sudah cukup sesak.
Lalu lalang orang tidak lagi seperti gerakan harmoni.

Aku ada di udara.
Mencari ruang kosong.
Aku hanya bertemu kata-kata yang tidak bisa aku baca.

Kamu melihat aku di taman.
Berbaring di rumput, memegang buku yang belum selesai aku baca.
Kamu bilang betapa indahnya hidup ku.

Aku hanya melihat awan-awan berjuang menghindari kepulan asap hitam, asal kamu tahu.
Burung-burung pun jarang terdengar mungkin tertelan kebisingan atau memang entah lah.
Aku diam saja. Aku diam saja.

Aku mencari-cari hening yang langka.
Dan menemukannya di sudut kafe itu, di lamunan ku, di taman kota.

Aku tersentak.
Mesin waktu memaksa berputar.
Hidup sudah menanti.

Tuhan beri aku sedikit waktu lagi.
Aku ingin diam saja.
Dan menjadi asing dalam lamunan.






5.5.14

Pulang..

Harusnya aku mengucapkan salam dulu setelah mungkin setahun membiarkan sepotong jingga ini usang. 

Aku tetap menulis. Bukan, bukan berita atau artikel terkait profesiku sebagai jurnalis tentu saja. Tetapi prosa atau kumpulan kata yang aku paksa menjadi prosa(prosa-an) dalam selipan kertas kecil, dalam catatan digital di HP atau laptop yang bercecaran.

Ada saatnya kita ingin hanya mengingatnya saja, sendiri lalu membiarkan semuanya mengalir sebagaimana seharusnya. 

Atau biarlah tulisan-tulisan lain dari imaninasi ini tetap menjadi imajinasi yang utuh tanpa ada prasangka dari siapapun yang menebak-nebak.. "Itu terjadi padamu?"
 Karena kadang, aku lupa mana yang nyata, mana yang kurasa, dan mana yang hanya aku buat ada (dan aku buat samar-samar). Aku tidak bermaksud terkesan ingin misterius.

Jadi begini lah hidupku, berjalan indah yang tentu saja tidak lurus-lurus saja. Sejujurnya aku sudah tidak terlalu memikirkan takaran indah atau tidak itu sampai dimana. Pendapat kita pasti berbeda.

Tetapi pada akhirnya kita akan menjawab "begini-begini saja" bukan? Kamu tahu kenapa? Karena apa yang terjadi, apa yang kita rasa, hanyalah kesemuan. Jika itu semua masih membekas karena kita memberinya ruang dan memilih, memilih untuk membiarkan mereka tetap di sana.

Aku merasa waktu berjalan begitu cepat karena kenangan-kenangan yang aku ingat dan aku paksa ingat sekarang rasanya masih terasa nyata dan begitu dekat. Apa saja.

Jika kita pernah mendengar kata menyia-nyiakan sesuatu, aku rasa aku telah melakukannya dengan ku sadari dan tanpa ku sadari. Ketika rasa penyesalan datang, suatu saat kita akan bertemu dengan yang bernama pasrah. Lalu kita akan masuk dalam fase menyerahkan segala keputusan pada alam semesta.
Aku mengalami itu semua. Err, sayangnya kerap berulang.
Tapi di sini, aku hadir sebagai sosok yang tidak pernah sama lagi. Kira-kira begitu lah mengapa aku selalu memaknai setiap kejadian pasti memiliki argumen untuk terjadi.

Aku masih menerka-nerka, putaran apa lagi yang ada di depan mata karena meskipun aku merasa lebih utuh, ada yang tidak bisa aku kendalikan dengan logika. Apalagi, sisa-sisa harapan rasanya sulit disingkirkan.

Yang aku tahu, saat ini kedua tangan ku kewalahan menggenggam mimpi-mimpi yang sudah berjejalan. Aku, begitu semangat untuk menghempaskannya mendekati awan-awan. Dan kali ini, tidak harus saat senja karena aku perhatikan, satu dua orang juga kegandrungan. 

Ada dan ilusi

Kesempurnaan hanyalah ilusi. 
Selamanya adalah konsep yang keliru. 

Itulah mengapa, aku selalu khawatir saat jatuh cinta. 
Aku tidak pernah benar-benar menikmatinya.

25.7.13

Anggaplah aku bulan

Aku ingin mengucapkan salam kepadamu. 

Anggaplah aku bulan, yang terus mengintai, namun tak bisa kau capai.

Anggaplah aku bulan, yang membuat malam gelapmu menjadi lebih terang. Meskipun tetap temaram.

Anggaplah aku bulan yang kadang tak terduga datang bersama purnama, kadang redup bersama mendung, tak kelihatan. Kadang aku sepertinya menghilang, tak datang.

Anggaplah aku bulan, yang sejujurnya ingin meraihmu. Namun sungguh, aku tidak sanggup. Takdirku di sini. Takdirmu di sana.

Aku adalah bulan yang tanpa kamu tahu atau kamu mungkin sudah tahu, atau kamu tidak perlu tahu, bahwa aku terus mengintaimu.

Aku hanya apa yang sepertinya bisa kamu jangkau tetapi nyatanya keadaan telah memisahkan kita jauh, semakin jauh.

Aku adalah bulan yang hanya bisa diam. 

Entahlah.. semua pasti ada alasannya.

25.1.13

Ladang memori

Ladang memori itu tampak berkilau dari kejauhan
Menyeretmu pada romantisme yang berlebihan
Lalu tanpa sadar, kamu tak ingin pulang.

Bahkan, kamu tidak hanya tak ingin pulang
Tetapi tersesat di ladang memorimu sendiri
Romantisme tidak lagi indah
Ia menjerumuskan.
Begitu dalam.

6.1.13

Firasat, Keinginan

Ketika firasat dan keinginan berjejalan, berebut tempat di jalur kesadaran.
Aku menyerahkan semuanya pada waktu. Sebegitunya aku percaya.

Firasatku mengatakan, suatu malam aku bercerita tak henti dengan gerakan tangan kesana-kemari. Terlalu bersemangat. Kamu topangkan dagu, tersenyum, sesekali menghembuskan asap rokok sialanmu itu. Atau kita menikmati musik musik anti-mainstream itu, gila-gila bersama.

Tetapi kini, di sini, aku lebih menyukai begini. Kita berjarak, bertemu saja tak sengaja- sengaja tak sengaja. Aku memilih melanjutkan lamunanku di sudut, kamu mondar-mandir lalu menyulut rokok lagi. Aku suka begini, diam saja mengawasimu dari sudut mata.

Tetapi firasatku menjelma menjadi keinginan kemudian mewujud keresahan. Bertanya-tanya.

Kamu lontarkan janjimu, satu kali, dua kali.. Aku tanggapi acuh, tak peduli, dan bisik-bisik ke semesta, "Ayo, berikan pertanda. Aku ingin bermain-main lewat isyaratmu."

Menerka memang mengasyikan. Media kita untuk memacu adrenalin yang sesungguhnya. Namun sejak semalam, aku kelimpungan. Kenapa jadi aku yang dipermainkan oleh label firasat atau keinginan ini? Aku tak ingin mencuri waktu, sungguh. Aku ingin biarkan saja, biarkan adanya. Sesekali aku nekat melangkahi garis sumpahku itu sampai aku mulas-mulas, tak siap.

Jadi, mungkin, kita akhiri saja permainan kejutan ini? Karena firasatku (sepertinya) sudah melumer bersama keinginan sampai-sampai aku tidak sabar lagi. Dan ini bahaya, bagiku.

5.12.12

Percakapan

"Sekarang waktunya kita kembali ke ruang masing-masing. Kau telah merampas malam ku. Sekarang, biarkan aku mengamatimu dari balik sekat jendela yang disesaki bulir-bulir air sehabis hujan. Aku akan di sini saja, duduk, menikmatimu dari jauh. Kau, mungkin, pergi dengan payung hitam itu. Aku di sini saja, di dunia ku," katamu, di suatu malam yang katamu telah aku rampas.

"Pergi? aku pun akan di sini saja, di sudut yang biasa. Kau tahu, sambil menunggu setiap sore. Aku pandangi siluetmu, mengingat-ingat kehangatan itu. Tak ada lagi gejolak, namun belum saatnya aku beranjak, senja. Kenapa? Aku pun tidak tahu. Oh ya, aku baik-baik saja," kataku, di sebuah sore yang telah kau curi.

Lalu lalang orang-orang pun tak pernah mengerti apa yang dua orang itu tunggu. Mereka bahkan tak ingin memahami, karena kisahnya terlalu perih.