Kehangatan terasa saat dua orang itu saling berhadapan. Kehangatan yang
abadi. Tawa sumringah berderai-derai, kemudian menusuk setelahnya.
Nostalgia itu tak bisa lama-lama, mereka diburu waktu. Ah, waktu memang
selalu memburu mereka, seakan-akan bisa membunuh kalau saja mereka
ingkar. Ya, sebegitu kejamnya waktu pada mereka.
Di tempat yang sama, mesin waktu kadang timbul membawa pusaran masa
silam. Saat itu, mereka harus mengucapkan pisah. Tak ada pilihan. Air
mata bukan lagi pertanda, karena sudah habis sebelum-sebelumnya. Pelukan
hangat sebelum mereka harus ke ruang masing-masing lah yang terbawa
lagi saat itu. Manis sekali.
...
Ini hanya memori, yang kadang-kadang aku buka. Tetapi kamu tenang saja,
ia tak pernah usang. Tak akan aku biarkan. Namun, tidak juga akan
aku hadirkan. Biarkan itu menjadi ilusi kita saat ingin merayakannya.
Yang merampas malam-malam kita sesekali saja.
Bandara Ahmad Yani, sehabis senja, 2012.
5.12.12
Jamuan nostalgia
Di atas negeri senja, pada sebuah sore yang penuh makna. Mari lah kita
angkat gelas-gelas kerinduan, sebelum kita teguk tak tersisa, tak
berulang. Inilah jamuan nostalgia yang selalu aku tunggu-tunggu....bersamamu, memori..
Mengalir lah..
Keindahan akan terus mengalir deras jika tak ada kata memiliki.
Maka mengalirlah..
Jangan kau berlabuh di sini.
Biarkan aku menyaksikan liukan liukan itu
dan menebak-nebak makna apa yang tersirat.
Aku akan merindukan percikan percikan itu. Tentu saja.
Tetapi bukan itu yang aku butuh.
Aku tak ingin terikat, apalagi diikat.
Maka mengalirlah..
Jangan kau berlabuh di sini.
Biarkan aku menyaksikan liukan liukan itu
dan menebak-nebak makna apa yang tersirat.
Aku akan merindukan percikan percikan itu. Tentu saja.
Tetapi bukan itu yang aku butuh.
Aku tak ingin terikat, apalagi diikat.
19.11.12
Kita (kesekian)
Kita memang terpisahkan oleh bilik jendela.
"Engkau adalah kedekatan yang terasa jauh. Sangat jauh," katamu, suatu hari.
Selama kita masih dapat saling melihat, meskipun hanya dari balik etalase jendela, aku tak apa. Kira-kira begitulah jawabanku kala itu.
Di sudut sini aku menikmatimu sembari menyeruput teh poci. Kadang kopi. Dan aku melihat kamu menenguk - kadang air putih, kadang bir, kadang juga secangkir cokelat panas. Entah kenapa itu saja bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri.
Meskipun aku sibuk membaca, aku juga tahu kamu memperhatikanku dengan seksama, sambil menerka-nerka, mungkin.. buku apa gerangan yang menyita perhatianku itu. Kerlingan mata tajam itu, tentu saja tak mungkin aku lupa.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Suatu malam, hujan mengguyur tempat kita. Begitu deras.
Jadilah jendela-jendela itu berembun, timbul tetes demi tetes air yang menyamarkan pandangan kita.
Aku tak dapat lagi melihat sosokmu dengan jelas.
Namun, aku cukup mengingat, bahwa kita sepakat, harum bau tanah sehabis hujan ini adalah beribu-ribu rasa tentang kita.
"Aku terus mengingat kenyamanan itu," katamu sebelum menjelma menjadi siluet, yang tak pernah tertangkap lagi.
"Engkau adalah kedekatan yang terasa jauh. Sangat jauh," katamu, suatu hari.
Selama kita masih dapat saling melihat, meskipun hanya dari balik etalase jendela, aku tak apa. Kira-kira begitulah jawabanku kala itu.
Di sudut sini aku menikmatimu sembari menyeruput teh poci. Kadang kopi. Dan aku melihat kamu menenguk - kadang air putih, kadang bir, kadang juga secangkir cokelat panas. Entah kenapa itu saja bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri.
Meskipun aku sibuk membaca, aku juga tahu kamu memperhatikanku dengan seksama, sambil menerka-nerka, mungkin.. buku apa gerangan yang menyita perhatianku itu. Kerlingan mata tajam itu, tentu saja tak mungkin aku lupa.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Suatu malam, hujan mengguyur tempat kita. Begitu deras.
Jadilah jendela-jendela itu berembun, timbul tetes demi tetes air yang menyamarkan pandangan kita.
Aku tak dapat lagi melihat sosokmu dengan jelas.
Namun, aku cukup mengingat, bahwa kita sepakat, harum bau tanah sehabis hujan ini adalah beribu-ribu rasa tentang kita.
"Aku terus mengingat kenyamanan itu," katamu sebelum menjelma menjadi siluet, yang tak pernah tertangkap lagi.
Macet
Sumpah serapah melengking tanpa suara, di udara.
Udara yang terpolusi NO2 dan CO itu pun memampatkan nafas.
Ditambah sengatan matahari bagai mencekik leher,
membakar kepala yang sudah dibasahi bulir bulir keringat sia-sia.
Semuanya membuncah dalam tumpukan kendaraan yang tak beraturan.
Di sebuah jalanan Jakarta yang banyak lubang.
Dan manusia-manusia yang sudah lupa akan kesabaran.
Udara yang terpolusi NO2 dan CO itu pun memampatkan nafas.
Ditambah sengatan matahari bagai mencekik leher,
membakar kepala yang sudah dibasahi bulir bulir keringat sia-sia.
Semuanya membuncah dalam tumpukan kendaraan yang tak beraturan.
Di sebuah jalanan Jakarta yang banyak lubang.
Dan manusia-manusia yang sudah lupa akan kesabaran.
29.10.12
Berfilosofi tentang kopi
Di perbatasan antara timur dan selatan, saya menemukan "rumah" kesekian.
Rumah utamanya adalah, sahabat lama saya.
Dan yang tidak saya duga, tokonya, melarutkan rindu, cerita, obrolan, kisah, bahkan diam dalam racikan yang begitu....sedap rasanya.
Disaksikan berderet-deret alat peracik kopi yang berjejer rapi, lalu lalang orang berfilosofi soal kopi, baik itu dengan menterjemahkannya dalam kata-kata atau seruputan di sore yang baru disiram hujan.
Kurang nikmat apa, saat mereka membicarakan kopi, mereka disuguhkan segelas cairan hitam yang membuat mereka datang ke situ, ke Philo Coffee. Mereka, termasuk saya, bisa menyaksikan sendiri sejak biji-biji kopi itu dihancurkan, diracik, dan siap diseruput......dan tanpa gula!
Rumah utamanya adalah, sahabat lama saya.
Dan yang tidak saya duga, tokonya, melarutkan rindu, cerita, obrolan, kisah, bahkan diam dalam racikan yang begitu....sedap rasanya.
Disaksikan berderet-deret alat peracik kopi yang berjejer rapi, lalu lalang orang berfilosofi soal kopi, baik itu dengan menterjemahkannya dalam kata-kata atau seruputan di sore yang baru disiram hujan.
Kurang nikmat apa, saat mereka membicarakan kopi, mereka disuguhkan segelas cairan hitam yang membuat mereka datang ke situ, ke Philo Coffee. Mereka, termasuk saya, bisa menyaksikan sendiri sejak biji-biji kopi itu dihancurkan, diracik, dan siap diseruput......dan tanpa gula!
Bergelas-gelas "teh poci"
Entah kenapa, aku begitu menggemari teh poci.
Pahit sih, tapi disitulah nikmatnya.
Boleh lah aku taburkan sedikit gula, untuk penawar.
Tetapi rasa pahitnya akan datang lagi,
lagi, lagi.. lagi.....
Sepahit kenyataan yang aku minum, kamu teguk, kita habiskan bersamaan.
Kita sibuk berargumen, merumuskan kata-kata penolakan.
Tetapi sungguh, itu melelahkan.
Bagaikan meminum teh pahit ini, sedikit demi sedikit, kita ketagihan.
Saat aku melontarkan sumpah, "Hanya satu gelas saja!"
Sesudah itu aku tahu, aku tak bisa berhenti.
Tidak perlu kita mengakui bahwa kita sama-sama ketagihan.
Karena, "bergelas-gelas teh poci" yang berserakan di meja ini sudah cukup membuktikan.
Sementara, restoran ini sebentar lagi tutup.
Aku tahu kamu enggan beranjak, dan andai kamu tahu..aku pun ingin waktu tak gerak.
"Satu teko lagi, mas!" teriak kita pada pelayan.
Pahit sih, tapi disitulah nikmatnya.
Boleh lah aku taburkan sedikit gula, untuk penawar.
Tetapi rasa pahitnya akan datang lagi,
lagi, lagi.. lagi.....
Sepahit kenyataan yang aku minum, kamu teguk, kita habiskan bersamaan.
Kita sibuk berargumen, merumuskan kata-kata penolakan.
Tetapi sungguh, itu melelahkan.
Bagaikan meminum teh pahit ini, sedikit demi sedikit, kita ketagihan.
Saat aku melontarkan sumpah, "Hanya satu gelas saja!"
Sesudah itu aku tahu, aku tak bisa berhenti.
Tidak perlu kita mengakui bahwa kita sama-sama ketagihan.
Karena, "bergelas-gelas teh poci" yang berserakan di meja ini sudah cukup membuktikan.
Sementara, restoran ini sebentar lagi tutup.
Aku tahu kamu enggan beranjak, dan andai kamu tahu..aku pun ingin waktu tak gerak.
"Satu teko lagi, mas!" teriak kita pada pelayan.
Senja, aku, malam
Senja,
aku baru tersadar satu hal.
Segala keindahanmu yang menyilaukan ku, menarik ku pada kebahagiaan yang tak terdefinisi.
Bersamaan dengan itu, aku selalu belajar membebaskanmu, dalam setiap ujung sore.
Namun ternyata senja,
bukan kamu yang mengajari ku untuk belajar melepaskan.
Bukan kamu. Tetapi malam, ya, malam.
Dia yang merenggutmu, tetapi juga mengajarkan aku untuk membebaskanmu.
Maka, di sinilah aku. Bersembunyi dari balik jendela.
Kini aku tahu, aku tak harus menikmatimu dari barisan terdepan, dimana kamu selalu tahu ada aku di situ.
Aku selalu bisa menikmatimu, lewat sentuhan angin atau terpaan cahaya sore dari tempat yang tidak pernah kamu tahu.
Mungkin aku siluet yang bergerak-gerak itu,
Mungkin aku bayangan yang mengendap-endap dari sebuah warung kopi atau gedung yang menjulang.
Mungkin aku gumaman yang bergaung di ujung gang, berbisik tak jelas.
Kamu, senja.. tidak perlu tahu.
Karena aku telah membebaskanmu....kepada malam.
aku baru tersadar satu hal.
Segala keindahanmu yang menyilaukan ku, menarik ku pada kebahagiaan yang tak terdefinisi.
Bersamaan dengan itu, aku selalu belajar membebaskanmu, dalam setiap ujung sore.
Namun ternyata senja,
bukan kamu yang mengajari ku untuk belajar melepaskan.
Bukan kamu. Tetapi malam, ya, malam.
Dia yang merenggutmu, tetapi juga mengajarkan aku untuk membebaskanmu.
Maka, di sinilah aku. Bersembunyi dari balik jendela.
Kini aku tahu, aku tak harus menikmatimu dari barisan terdepan, dimana kamu selalu tahu ada aku di situ.
Aku selalu bisa menikmatimu, lewat sentuhan angin atau terpaan cahaya sore dari tempat yang tidak pernah kamu tahu.
Mungkin aku siluet yang bergerak-gerak itu,
Mungkin aku bayangan yang mengendap-endap dari sebuah warung kopi atau gedung yang menjulang.
Mungkin aku gumaman yang bergaung di ujung gang, berbisik tak jelas.
Kamu, senja.. tidak perlu tahu.
Karena aku telah membebaskanmu....kepada malam.
16.10.12
Sajak dari balik jendela
"..Kutatap senja keemasan itu dengan perasaan yang rawan. Aku tidak mengerti, mengapa hatiku selalu merasa rawan setiap kali senja tiba. Senja ini juga membuat hatiku rawan. Apakah karena senja selalu seperti sebuah perpisahan?.." SGA
Saya coba bayangkan begini. Saya kembali melukis, namun diatas kanvas yang sudah tidak jernih lagi. Saya goreskan kuas dengan sembarang warna, dengan ragu. Kemudian saya berpikir. Tidak, sebenarnya saya tidak sedang berpikir sungguhan. Saya coba merasa, mengenang, dan saya kembali gagal.
Saya gagal menahan diri untuk tidak menorehkan apapun diatas kanvas itu. Tetapi mereka bertanya? "Kapan kamu melukis lagi?" Saya tidak peduli.
Sampai akhirnya saya tahu ada yang tumbuh diam-diam menelusuk pagar yang mulai karatan itu. Memakannya, pelan-pelan, hingga hancur lebur, tak dapat saya bentuk lagi. Lalu saya dapati kosong yang mulai merayap.
"..Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam.." SGA
Saya hentikan gambar yang mulai absurd ini meskipun saya dapati warna yang tidak hanya hitam dan putih. "Kanvas ini begitu sempit" katamu, pura-pura tidak tahu. Sementara kamu tahu, saya benci apa saja yang disebut pura-puru dan menelan ironi realita bahwa saya pun sedang berpura-pura.
"..Senja begitu indah, tapi begitu fana - apakah segala sesuatu dalam kehidupan ini memang hanya sementara?" SGA
Dalam goresan ini, saya tahu ini begitu fana. Lukisan ini pun tidak akan abadi. Suatu saat entah akan dilukis apa, berwarna apa. Atau mungkin tidak berwarna?
Mungkin saja. Karena yang pasti adalah, kamu yang fana.
*Tertanda:
Di atas awan bersama tuturan SGA. Pada sore kesekian, hanya jendela dan lagi-lagi tanpa senja*
11.10.12
Opera Alam
Kamu bisa bilang malam begitu keji
Karena memanggil romansa yang ingin kau tepis.
Tetapi siapa sangka?
Pagi tidak secerah harapan yang sudah kamu bungkus kemarin.
Ia juga bisa ingkar.
Namun, siang yang suram memang paling keterlaluan.
Padahal kamu sudah kehausan dan tak lagi membawa sisa harapan,
Hanya ratapan.
Tunggu dulu.
Mungkin jelmaan sore bisa menggiringmu untuk bangkit pelan-pelan.
Meskipun hanya sekedar menyaksikan siluet bayang bayang kenangan.
Karena memanggil romansa yang ingin kau tepis.
Tetapi siapa sangka?
Pagi tidak secerah harapan yang sudah kamu bungkus kemarin.
Ia juga bisa ingkar.
Namun, siang yang suram memang paling keterlaluan.
Padahal kamu sudah kehausan dan tak lagi membawa sisa harapan,
Hanya ratapan.
Tunggu dulu.
Mungkin jelmaan sore bisa menggiringmu untuk bangkit pelan-pelan.
Meskipun hanya sekedar menyaksikan siluet bayang bayang kenangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)




