Sumpah serapah melengking tanpa suara, di udara.
Udara yang terpolusi NO2 dan CO itu pun memampatkan nafas.
Ditambah sengatan matahari bagai mencekik leher,
membakar kepala yang sudah dibasahi bulir bulir keringat sia-sia.
Semuanya membuncah dalam tumpukan kendaraan yang tak beraturan.
Di sebuah jalanan Jakarta yang banyak lubang.
Dan manusia-manusia yang sudah lupa akan kesabaran.
19.11.12
29.10.12
Berfilosofi tentang kopi
Di perbatasan antara timur dan selatan, saya menemukan "rumah" kesekian.
Rumah utamanya adalah, sahabat lama saya.
Dan yang tidak saya duga, tokonya, melarutkan rindu, cerita, obrolan, kisah, bahkan diam dalam racikan yang begitu....sedap rasanya.
Disaksikan berderet-deret alat peracik kopi yang berjejer rapi, lalu lalang orang berfilosofi soal kopi, baik itu dengan menterjemahkannya dalam kata-kata atau seruputan di sore yang baru disiram hujan.
Kurang nikmat apa, saat mereka membicarakan kopi, mereka disuguhkan segelas cairan hitam yang membuat mereka datang ke situ, ke Philo Coffee. Mereka, termasuk saya, bisa menyaksikan sendiri sejak biji-biji kopi itu dihancurkan, diracik, dan siap diseruput......dan tanpa gula!
Rumah utamanya adalah, sahabat lama saya.
Dan yang tidak saya duga, tokonya, melarutkan rindu, cerita, obrolan, kisah, bahkan diam dalam racikan yang begitu....sedap rasanya.
Disaksikan berderet-deret alat peracik kopi yang berjejer rapi, lalu lalang orang berfilosofi soal kopi, baik itu dengan menterjemahkannya dalam kata-kata atau seruputan di sore yang baru disiram hujan.
Kurang nikmat apa, saat mereka membicarakan kopi, mereka disuguhkan segelas cairan hitam yang membuat mereka datang ke situ, ke Philo Coffee. Mereka, termasuk saya, bisa menyaksikan sendiri sejak biji-biji kopi itu dihancurkan, diracik, dan siap diseruput......dan tanpa gula!
Bergelas-gelas "teh poci"
Entah kenapa, aku begitu menggemari teh poci.
Pahit sih, tapi disitulah nikmatnya.
Boleh lah aku taburkan sedikit gula, untuk penawar.
Tetapi rasa pahitnya akan datang lagi,
lagi, lagi.. lagi.....
Sepahit kenyataan yang aku minum, kamu teguk, kita habiskan bersamaan.
Kita sibuk berargumen, merumuskan kata-kata penolakan.
Tetapi sungguh, itu melelahkan.
Bagaikan meminum teh pahit ini, sedikit demi sedikit, kita ketagihan.
Saat aku melontarkan sumpah, "Hanya satu gelas saja!"
Sesudah itu aku tahu, aku tak bisa berhenti.
Tidak perlu kita mengakui bahwa kita sama-sama ketagihan.
Karena, "bergelas-gelas teh poci" yang berserakan di meja ini sudah cukup membuktikan.
Sementara, restoran ini sebentar lagi tutup.
Aku tahu kamu enggan beranjak, dan andai kamu tahu..aku pun ingin waktu tak gerak.
"Satu teko lagi, mas!" teriak kita pada pelayan.
Pahit sih, tapi disitulah nikmatnya.
Boleh lah aku taburkan sedikit gula, untuk penawar.
Tetapi rasa pahitnya akan datang lagi,
lagi, lagi.. lagi.....
Sepahit kenyataan yang aku minum, kamu teguk, kita habiskan bersamaan.
Kita sibuk berargumen, merumuskan kata-kata penolakan.
Tetapi sungguh, itu melelahkan.
Bagaikan meminum teh pahit ini, sedikit demi sedikit, kita ketagihan.
Saat aku melontarkan sumpah, "Hanya satu gelas saja!"
Sesudah itu aku tahu, aku tak bisa berhenti.
Tidak perlu kita mengakui bahwa kita sama-sama ketagihan.
Karena, "bergelas-gelas teh poci" yang berserakan di meja ini sudah cukup membuktikan.
Sementara, restoran ini sebentar lagi tutup.
Aku tahu kamu enggan beranjak, dan andai kamu tahu..aku pun ingin waktu tak gerak.
"Satu teko lagi, mas!" teriak kita pada pelayan.
Senja, aku, malam
Senja,
aku baru tersadar satu hal.
Segala keindahanmu yang menyilaukan ku, menarik ku pada kebahagiaan yang tak terdefinisi.
Bersamaan dengan itu, aku selalu belajar membebaskanmu, dalam setiap ujung sore.
Namun ternyata senja,
bukan kamu yang mengajari ku untuk belajar melepaskan.
Bukan kamu. Tetapi malam, ya, malam.
Dia yang merenggutmu, tetapi juga mengajarkan aku untuk membebaskanmu.
Maka, di sinilah aku. Bersembunyi dari balik jendela.
Kini aku tahu, aku tak harus menikmatimu dari barisan terdepan, dimana kamu selalu tahu ada aku di situ.
Aku selalu bisa menikmatimu, lewat sentuhan angin atau terpaan cahaya sore dari tempat yang tidak pernah kamu tahu.
Mungkin aku siluet yang bergerak-gerak itu,
Mungkin aku bayangan yang mengendap-endap dari sebuah warung kopi atau gedung yang menjulang.
Mungkin aku gumaman yang bergaung di ujung gang, berbisik tak jelas.
Kamu, senja.. tidak perlu tahu.
Karena aku telah membebaskanmu....kepada malam.
aku baru tersadar satu hal.
Segala keindahanmu yang menyilaukan ku, menarik ku pada kebahagiaan yang tak terdefinisi.
Bersamaan dengan itu, aku selalu belajar membebaskanmu, dalam setiap ujung sore.
Namun ternyata senja,
bukan kamu yang mengajari ku untuk belajar melepaskan.
Bukan kamu. Tetapi malam, ya, malam.
Dia yang merenggutmu, tetapi juga mengajarkan aku untuk membebaskanmu.
Maka, di sinilah aku. Bersembunyi dari balik jendela.
Kini aku tahu, aku tak harus menikmatimu dari barisan terdepan, dimana kamu selalu tahu ada aku di situ.
Aku selalu bisa menikmatimu, lewat sentuhan angin atau terpaan cahaya sore dari tempat yang tidak pernah kamu tahu.
Mungkin aku siluet yang bergerak-gerak itu,
Mungkin aku bayangan yang mengendap-endap dari sebuah warung kopi atau gedung yang menjulang.
Mungkin aku gumaman yang bergaung di ujung gang, berbisik tak jelas.
Kamu, senja.. tidak perlu tahu.
Karena aku telah membebaskanmu....kepada malam.
16.10.12
Sajak dari balik jendela
"..Kutatap senja keemasan itu dengan perasaan yang rawan. Aku tidak mengerti, mengapa hatiku selalu merasa rawan setiap kali senja tiba. Senja ini juga membuat hatiku rawan. Apakah karena senja selalu seperti sebuah perpisahan?.." SGA
Saya coba bayangkan begini. Saya kembali melukis, namun diatas kanvas yang sudah tidak jernih lagi. Saya goreskan kuas dengan sembarang warna, dengan ragu. Kemudian saya berpikir. Tidak, sebenarnya saya tidak sedang berpikir sungguhan. Saya coba merasa, mengenang, dan saya kembali gagal.
Saya gagal menahan diri untuk tidak menorehkan apapun diatas kanvas itu. Tetapi mereka bertanya? "Kapan kamu melukis lagi?" Saya tidak peduli.
Sampai akhirnya saya tahu ada yang tumbuh diam-diam menelusuk pagar yang mulai karatan itu. Memakannya, pelan-pelan, hingga hancur lebur, tak dapat saya bentuk lagi. Lalu saya dapati kosong yang mulai merayap.
"..Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam.." SGA
Saya hentikan gambar yang mulai absurd ini meskipun saya dapati warna yang tidak hanya hitam dan putih. "Kanvas ini begitu sempit" katamu, pura-pura tidak tahu. Sementara kamu tahu, saya benci apa saja yang disebut pura-puru dan menelan ironi realita bahwa saya pun sedang berpura-pura.
"..Senja begitu indah, tapi begitu fana - apakah segala sesuatu dalam kehidupan ini memang hanya sementara?" SGA
Dalam goresan ini, saya tahu ini begitu fana. Lukisan ini pun tidak akan abadi. Suatu saat entah akan dilukis apa, berwarna apa. Atau mungkin tidak berwarna?
Mungkin saja. Karena yang pasti adalah, kamu yang fana.
*Tertanda:
Di atas awan bersama tuturan SGA. Pada sore kesekian, hanya jendela dan lagi-lagi tanpa senja*
11.10.12
Opera Alam
Kamu bisa bilang malam begitu keji
Karena memanggil romansa yang ingin kau tepis.
Tetapi siapa sangka?
Pagi tidak secerah harapan yang sudah kamu bungkus kemarin.
Ia juga bisa ingkar.
Namun, siang yang suram memang paling keterlaluan.
Padahal kamu sudah kehausan dan tak lagi membawa sisa harapan,
Hanya ratapan.
Tunggu dulu.
Mungkin jelmaan sore bisa menggiringmu untuk bangkit pelan-pelan.
Meskipun hanya sekedar menyaksikan siluet bayang bayang kenangan.
Karena memanggil romansa yang ingin kau tepis.
Tetapi siapa sangka?
Pagi tidak secerah harapan yang sudah kamu bungkus kemarin.
Ia juga bisa ingkar.
Namun, siang yang suram memang paling keterlaluan.
Padahal kamu sudah kehausan dan tak lagi membawa sisa harapan,
Hanya ratapan.
Tunggu dulu.
Mungkin jelmaan sore bisa menggiringmu untuk bangkit pelan-pelan.
Meskipun hanya sekedar menyaksikan siluet bayang bayang kenangan.
10.8.12
Kabut prasangka
Bersembunyi dari yang mencari, mengejar pada yang terus berlari. Begini lah terkadang hidup, menguntai kusut, tak berbentuk.
Lalu kita bertanya, kapan terjadi pertemuan jika kita berada pada arah yang berbeda. Jika kita terhalang kabut prasangka. Atau jika berpura-pura bahwa rasa tidak pernah ada.
Angin pun akhirnya menyerah memberikan arah pada dua manusia yang saling berdusta. Tenggelam bersama rasa yang disimpan.
Mendustai intuisi, dan hati, dengan penuh perih dan lirih. Akhirnya pergi.. Melebur pada rasa sendiri.
Menggapai-gapai makna agar terus mampu berdiri. Melupakan luka yang tersakiti, mencari puing-puing untuk bangkit kembali.
Lalu senja memerah, langit muram, pagi terasa kering. Musim telah berganti, namun kasih tak pernah mati.
Angin membisikan kata, semesta mengirimkan tanda. Keduanya kembali bersua, tidak sengaja.
Hati tak mampu lagi menyembunyikan jeritan yang tak pernah berbunyi. Sunyi, tiba-tiba sunyi. Hanya ada rintihan bahagia dari dua orang yang saling mencintai.
Tersenyum saling mengerti, pada jarak beberapa senti, mereka berhenti. Melepaskan kabut prasangka pada angin, entah dibawa ke ufuk mana..
Lalu kita bertanya, kapan terjadi pertemuan jika kita berada pada arah yang berbeda. Jika kita terhalang kabut prasangka. Atau jika berpura-pura bahwa rasa tidak pernah ada.
Angin pun akhirnya menyerah memberikan arah pada dua manusia yang saling berdusta. Tenggelam bersama rasa yang disimpan.
Mendustai intuisi, dan hati, dengan penuh perih dan lirih. Akhirnya pergi.. Melebur pada rasa sendiri.
Menggapai-gapai makna agar terus mampu berdiri. Melupakan luka yang tersakiti, mencari puing-puing untuk bangkit kembali.
Lalu senja memerah, langit muram, pagi terasa kering. Musim telah berganti, namun kasih tak pernah mati.
Angin membisikan kata, semesta mengirimkan tanda. Keduanya kembali bersua, tidak sengaja.
Hati tak mampu lagi menyembunyikan jeritan yang tak pernah berbunyi. Sunyi, tiba-tiba sunyi. Hanya ada rintihan bahagia dari dua orang yang saling mencintai.
Tersenyum saling mengerti, pada jarak beberapa senti, mereka berhenti. Melepaskan kabut prasangka pada angin, entah dibawa ke ufuk mana..
20.6.12
Pantulan jendela
Sebuah perpisahan bertemu dengan jendela. Hamparan kehidupan di luar
sana seolah menjadi hantaman pada fakta bahwa.. Di sini begitu sunyi dan
hampa.
Satu persatu apa yang melekat, terpaksa pergi, atau memaksa pergi, atau memang harus pergi. Menarik perih dan berbekas.
Saya tertawa sebelum memasuki ruang hampa ini. Setelah amarah yang terburai. Meninggalkan penyesalan. Setelah semuanya meledak dalam waktu sekejap, timbul keletihan. Kadang ada saatnya dimana kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali, diam. Dan saya, di sini, hanya bisa menyeka air mata. Memandangi diri dalam pantulan kaca jendela.
Dan begitulah, pada akhirnya saya selalu menyukai jendela disudut mana pun. Yang selalu mengingatkan saya, bahwa setiap manusia dipisahkan pada masing-masing dimensi 'fase' yang berbeda. Yang akan hadir pada lamunannya seorang diri, pada pantulan di jendela. Bahwa hidup itu sendiri, entah saat jatuh dan bangkit.
*on my own way to destiny
Satu persatu apa yang melekat, terpaksa pergi, atau memaksa pergi, atau memang harus pergi. Menarik perih dan berbekas.
Saya tertawa sebelum memasuki ruang hampa ini. Setelah amarah yang terburai. Meninggalkan penyesalan. Setelah semuanya meledak dalam waktu sekejap, timbul keletihan. Kadang ada saatnya dimana kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali, diam. Dan saya, di sini, hanya bisa menyeka air mata. Memandangi diri dalam pantulan kaca jendela.
Dan begitulah, pada akhirnya saya selalu menyukai jendela disudut mana pun. Yang selalu mengingatkan saya, bahwa setiap manusia dipisahkan pada masing-masing dimensi 'fase' yang berbeda. Yang akan hadir pada lamunannya seorang diri, pada pantulan di jendela. Bahwa hidup itu sendiri, entah saat jatuh dan bangkit.
*on my own way to destiny
26.3.12
Coffeeing
What do you prefer, coffeeing alone or with someone?
I'd answer.. alone. It's a paradise when you have a cup of coffee by yourself, take a window seat in the corner of coffee shop, dive into your self while you dive into the black coffee inside..far..far away.
When you look deeply at a cup of coffee, there is a time machine whom could bring you to the old memories or maybe.. delusions.

But, sometimes, it's good to have conversation during coffeeing.
Laughter while the smell fumes billowing off a nice hot coffee.
Freedom when you sipping a cup of coffee.
Solitary moment when you stirring the black coffee.
I leave for a while coffeeing alone and i have it all, with my beloved Environmental Engineering 2005's folks at Kopi Joss, Jogjakarta.
Ms. Sunflower
Foto: Afif Saputra
Hahaha..
Sorry for being a bit narcissistic showing you pics of myself.
But, do you see "the happiness" on my face, pals?
Why sunflower?
My dear friend of mine asked me.
That was an absurd question. Somehow, he took me to the florist.
My dear friend of mine,
Sunflower is the magical thing that i can enjoy its yellow, its fiery blooms,
and it always hypnotize me into a room of happiness.
As you told,
Sunflower is a symbol of fidelity.
It always follow the sun from east to west, from sunrise until sunset,
each day.
Words can't describe how i feel.
The beautiful things inside blow me away..
to the Neverland, my dreamland.
Me blooming like a sunlower.
Me can't stop smiling.
That magical moment flew me away to the highest orange sky.
I was so happy for had a sunflower in my hand.
In every muse, i always dreaming it.
This...
Go to the florist,
buy sunflower,
keep it in my hand,
go to the silent garden or park,
feel the wind..
and with the backsound of france song.
L'Amoureuse - Carla Bruni
U made it. So this writing is special for you, dear friend of mine.
For always remember all my "Sagarmatha" and for those france songs.
Enjoy.. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)






