Pages

If there's no orange in the sky, i do try enjoying grey: I am a delusion angel.

23.2.12

Things Have Changed

.....
People are crazy and times are strange
I'm locked in tight, I'm out of range
I used to care, but things have changed


Malam kemarin. Sudah pukul tiga lewat, dalam pejaman mata, saya melihat bulir-bulir halus terbang menembus gelap yang tak berujung. Delusi gila itu berlanjut ketika kepala saya seolah-olah meleleh, bergabung bersama mereka menyusuri gelap, menyusul kemudian utuh badan saya yang bergerak bagai casper. Dalam setengah tidur, saya masih bisa merasakan kepala saya yang sakit luar biasa dan masih bisa terpikir, "mungkin ini karena selalu tidur pagi akhir-akhir ini."

I hurt easy, I just don't show it
You can hurt someone and not even know it
The next sixty seconds could be like an eternity


"Jadi, sekarang teman ngopi kamu siapa?" kata suara di sebrang telepon, sore itu.
Pertanyaan sederhana itu, entah kenapa, terngiang-ngiang hilir mudik ketika merindu tetes demi tetes waktu ngopi bersama teman-teman insomnia saya di Semarang. "Sudah tidak ada.."

Dulu saya masih berstatus mahasiswa, sedangkan mereka para wartawan yang mencoba menguapkan kepenatan mereka, dengan kopi, bir, kentang, kartu, rokok, obrolan, bahkan lamunan (untuk kepentingan pencitraan, saya bukan beers and cigarettes junkie..ehem).

Kami cukup konsisten, untuk menetapkan River View sebagai peraduan malam, dan kami cukup solid, bahkan hingga sekarang. Kadang saya berpikir, secara sengaja atau tidak, mereka lah yang membawa saya pun menjadi wartawan (lupakan kalau itu jebakan batman *bergumam*), meskipun nyasar di tulis bukan foto. pfuh.

Namun, Toko Oen, Warung Sedap Malam, pinggiran Polder Tawang, juga punya arti sendiri untuk saya. Kentang dan Eskrim Toko Oen yang bikin meleleh, juga suasananya yang klasik menjadi saksi bisu memori utuh saya menjadi 'lebih utuh', lebih dari sekedar nongkrong.

Lalu wisata Galeri. Minimnya galeri seni di Semarang membuat saya jengkel, namun saya menjadi rajin untuk datang di setiap acara pameran, seringnya tentu saja di Rumah Seni Yaitu dan Galeri Semarang. Meskipun saya kurang suka dengan rata-rata pengunjung pameran yang memiliki pose sama, dengan "mereka-mereka" yang kadang sok-high level dalam menuturkan karya, dan kumpulan-kumpulan komunitas yang merasa paling-iyess, namun aku hanya berkata peduli setan (lah...gw jadi nyanyi lagunya The Adams gini).

Gonna get low down, gonna fly high
All the truth in the world adds up to one big lie
I'm in love with a woman who don't even appeal to me


Lalu saya pulang kampung ke Jakarta. Kafe/warung kopi, galeri seni, jangan tanya banyak dan variasinya lah. Setelah sempat tersiksa bagai robot (secara rumah gw di pinggiran Jakata), saya pilih kos di jantung kota. Namun apa? saya tidak lagi tuh, meminum malam hingga pagi dengan ngopi di warung kopi, atau memburu pameran-pameran di galeri seni. Sekedar bertemu kawan di warung kopi itu pasti, karena begitulah gaya metropolis, namun itu tidak sering dan sebentar. Man, saya kehilangan partner. Atau karena rutinitas kerja dan lalu lintas Jakarta yang ganas? Ah, masa saya harus cari kambing hitam sih.

Mr. Jinx and Miss Lucy, they jumped in the lake
I'm not that eager to make a mistake


Dalam senandung Bob Dylan yang mau habis ini, itu lah sepotong memori kecil yang sudah usang. Hingga sekarang, saya masih rajin membersihkan debu-debunya, ketika saya bertemu dengan pagi, dengan suktara, dalam kesunyian sudut kamar, dan musik yang bersenandung bosan.

People are crazy and times are strange
I'm locked in tight, I'm out of range
I used to care, but things have changed 


{Humming Bob Dylan's - Things Have Changed}



16.2.12

Segelintir syair menjelang #Suktara

Dibalik gerombolan orang lalu lalang, komat kamit tanpa suara. Dalam hitungan inchi, kehidupan terbelah dua.

Ia enggan keluar, memilih menjadi tempat peraduan. Saat orang-orang acuh tak acuh, lalu lalang, ia bisa melihat semuanya. Jelas.

memisahkan dua kehidupan. Kebisingan dan kesepian.

selalu setia di balik kaca usang itu. Dia lah saksi bisu sang empu yang kadang melupakannya.

akan menjelma bagai peri, saat sang empu meraung-raung, mencarinya. Lalu ia pancarkan cahaya kuning yang menghangatkan.

Saat oranye dan abu-abu bertemu, ia tau bahwa itu hanya

Memintal , jika tidak hati-hati, kau akan tertusuk sendiri.

memang tidak pernah membosankan, begitu pun ia yang tidak pernah bosan untuk pergi tanpa pamitan.

Tetapi mungkin tidak kemana-mana, ia hanya tersembunyi dibalik dekapan gelap.

apa dosamu? Mungkin karena apa yang engkau bawa?

Alam semesta begitu kaya akan . Mengapa engkau masih meragu saat silau oleh bias yang berdusta?

Senja terlewati, tetapi #Suktara akan hadir seiring pagi :)

"Penyesalan adalah bunyi tanpa makna"

"Penyesalan adalah bunyi tanpa makna"

Sepotong bait "Jurnal Mimpi" Divakaruni yang saya baca dalam kereta menuju Kutoarjo yang melaju bosan di atas rel tua, terngiang-ngiang, dan terus saya baca ulang. Dia benar.

Kepingan-kepingan memori hadir bagai sekelebat sawah yang terlintas cepat di balik jendela kereta. Rangkaian cerita impulsif yang hanya-meninggalkan-ruang-kosong-berisi penyesalan-disusul-umpatan-pembodohan-diri, terkumpul dalam kantong yang usang. Mengingat itu semua, perut rasanya bergejolak, saya ingin hilang ke dalam perut bumi, lalu bangkit lagi dalam sosok yang asing.

Namun, diri saya yang lain mencoba membela diri. Semua orang pernah tampak bodoh dalam pikiran dan tindakannya yang impulsif. Dan itu fase. Namun, sebagian diri saya yang lain masih bersikeras ingin ditelan alam semesta, digodok menjadi jelmaan baru. Irasionalitas, menelusuk dalam setiap relung. Kita pernah salah, pernah memilih yang salah. Kamu pernah begini? Dan kamu belajar kan?

1.2.12

Membuncah

Di malam yang sepi ini, saya menengok sekilas ke belakang dan mendapati angin dingin yang kehilangan kasih. Ia meliuk bebas dengan kencang. Memaksa daun-daun jatuh, memisahkannya pada pohon-pohon yang menyayanginya.

Namun, mereka hanya diam, memaklumi bahwa angin dingin yang mendamba kebebasan itu, sudah tak mampu mendengar bisikan rasa. Ia terlalu angkuh untuk melihat apa saja yang sudah diberikan siapapun kepadanya. Semua masih menyayanginya. Mereka hanya mengamati, menerka, kapan angin dingin ini mau menyapa tanah yang tak pernah ia sentuh, dimana semua berpijak.

Entah kapan ia mau menyapa daun yang pernah ia buat terbuai dengan hembusannya, lalu ia gugurkan, ia  biarkan jatuh tak terarah, dan ia tinggalkan tanpa pesan, kecuali kenapa yang tak bisa ia jawab. Ia bahkan tidak pernah sadar apakah daun itu mengering atau terdampar di semak belukar.

Ia hanya peduli pada ujung langit yang terus ia kejar. Hingga ia semakin tinggi, semakin tidak peduli. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu berbagi. Ambisi menyelimutinya hingga hanya ada dia dan hal apapun yang dia inginkan. Ia rampas, ia hempaskan, ia lupakan.

Ia hanya bisa membawa hujan deras yang tertahan dalam awan gelap yang ia rajut. Ia tidak mengerti itikad lain, selain lenyap, dan menerpa tempat lain yang ia temukan.

Di padang ilalang ini, hanya ada saya dan kesejukan. Hembusan angin sepoi-sepoi, dan tidak ada lagi dingin yang menyusup ke pori-pori terdalam. Ia semakin jauh, buram, dan saya kembali merasakan kehangatan, bahkan kala malam menyergap.


25.1.12

terburai

Malam-malam ku hanya diisi oleh kata-kata yang terburai.
Saat itu, aku ingin mencabik-cabik malam,
agar cepat ku dapat terang.

Tunggu, jangan dulu terang.
Benang kusut semakin absurd.
Rangkaian kata-kata belum terbentuk.
Aku hanya mampu melukis bimbang di udara.

29.12.11

Antara ada dan tiada

Barusan saya berbincang dengan sahabat saya, yang juga partner di kos dan di kantor; Ida. Ini mungkin perbincangan yang ke seribu kali-nya dengan tema yang sama:

Saya:
"Kita udah terlanjur kecebur, da. Masa mau tenggelam atau mengapung. Mending kita berenang, kan? Cari tepian. Kali aja di suatu tempat nanti ada dataran yang indah."

Ida:
"Lo abis tapa brata ya, mon?"

Saya:
*Jedotin kepala di tembok*

Pasti, tidak semua dari kalian mengerti saya bicara soal apa. Ibaratnya begini, saya berdiri di sebuah lingkaran konvensional yang bangun kesiangan. Anggap saja mereka bertugas untuk menciptakan taman, dengan tanaman-tanaman yang berkualitas, bermanfaat dan harus tumbuh baru tepat waktunya.

Mereka semakin terhimpit oleh taman-taman baru yang lebih modern. Herannya, bukannya bergegas memutar ide agar taman mereka tidak ketinggalan jaman dan bermutu, mereka masih saja membuka jendela masa lalu dimana taman mereka lah yang paling besar dan terpandang. Dan kurang terik apa sang matahari menyengat mereka?

Tidak mengejutkan, ketika taman itu menjadi sepi, suram, antara ada dan tiada. Taman itu mungkin tidak akan tergusur, tetapi sangat mungkin jika taman itu hanya akan menjadi taman yang kering kerontang.

Angin semakin kering. Tetapi mereka menutup mata. Tanaman-tanaman semakin kritis. Namun mereka sibuk mencari posisi yang bagus.

Lalu datang lah sekumpulan anak muda yang di kepalanya masing-masing, sudah ada bayangan taman terindah, seindah impian mereka. Mungkin kah mereka bisa menyuburkan tanah yang sudah kering kerontang? yang enggan dijamah? yang sudah nyaman dengan tanaman-tanaman yang kerontang? yang masih merasa aman selama lahan mereka tidak digubris?

Segalanya mungkin berubah. Kita sebut ini: tantangan :)



20.12.11

Question

Now, could you stand his stubborness? For at least ummm.. 20 years ahead?

19.12.11

Step back for step forward then..

Saya kembali dengan perasaan yang sama. Ketika saya membangun negri di senja, saat itu senja hadir untuk mengecewakan saya. Saya menyebutnya, pagi. Dia hadir bersama dengan langit mendung yang siap menumpahkan berton-ton air hujan. Dan, ya, hujan itu kemudian turun juga, deras sekali. Ditambah dengan petir yang tiba-tiba menyalak. Dia tidak mencoba untuk menahannya. Bahkan membiarkan saya merasakan itu semua bersama dengan ketidaktahuan saya. Kejutan itu tentu saja menyakitkan. Namun kabut membuat saya tetap berdiri menggigil kedinginan di atas genangan air. Dan saat itu, saya tidak bisa melihat bayangan saya. Saya terlalu bingung menangkap rentetan kejadian yang begitu cepat ini. Saya kembali kecewa, kali ini kepada pagi. Luka tetap menjadi luka. Taman ku rusak. Meskipun ia kemudian memberikan banyak bunga-bunga yang indah. Saya biarkan pagar taman kecil itu terbuka untuknya. Namun ia lupa, luka akan tetap menjadi luka. Dan saya lupa, luka tidak seharusnya untuk dipelihara. Saya menjadi begitu penuh pemakluman hingga lupa apa makna nyaman. Dia menyimpan penolakan-penolakan dalam bom waktu yang siap meledak. Kami gagal berkomunikasi dengan tepat. Namun dia tidak akan punya kesempatan untuk mengobati kekecewaan ini. And yes, he's the one who lose. Not me. He gave up. Me don't.

5.11.11

Journey

I wish i was sitting on a moving train.. How i miss those moments.. train, station, journey, landscape, destination, and someone who waited. At least, I know what place i want to go.. Ya, i have a destination through the journey.

An Ocean Apart

Now we are together. Sitting outside in the sunshine. But soon we'll be apart.And soon it'll be night at noon. Now things are fine. The clouds are far away up in the sky. But soon I'll be on a plane. And soon you'll feel the cold rain. You promised to stay in touch when we're apart. You promised before I left that you'll always love me. Time goes by and people cry and everything goes too fast. Now we have each other. Enjoying each moment with one another But soon I'll be miles away. And soon the phone will be our only way. Now I'm in your arms. Feeling pure love and warm. But soon I'll be alone. And soon your voice will change of tone. You promised we'll never break up over the telephone. You said our love was stronger than an ocean apart. Time goes by and people lie and everything goes too fast. Let's not fool ourselves in vain. This far away trip will give us pain. We'll have to be so strong. To keep our love from going wrong. Distance will make us cold. Even put our love on hold. But soon we'll meet again. And soon it'll be bright at noon again. You promised not to loose faith in our love when I'm away. You promised so much to me but now you've left me. We go by and then we lie and all this time we wasted. Time goes by and people lie and everything goes too fast. Time went by and then we died and everything went too fast. Everything went too fast. Everything went too fast. Everything went too fast. (*Julie Delpy/Before Sunset)