kadang, saya ingin berteriak pada masa lalu dan kenangan..
"bisa kah kalian berhenti mengikuti kami???!!"
12.3.10
11.3.10
sejak aku....
sejak kapan jawaban tidak lagi mempunyai makna besar?
sejak aku tidak perlu bertanya lagi.
sejak aku tidak perlu bertanya lagi.
2.3.10
Hatiku Selembar Daun
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring disini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi
-sapardi djoko damono
biarkan aku dalam hening, tanpa kalian tau dimana.
sendiri.. memandangi cahaya sore yang terselip dicelah jendela
biarkan pikiranku berlari-lari bersama imajinasi
lalu aku bebas tanpa mereka..
biarkan 'aku' menjadi pemenang sebelum tiba di dunia lagi
biarkan aku di negri ku sendiri. tanpa terpaan.
hatiku selembar daun..
terkadang aku ingin terbawa angin..
dan melayang ditempat yg kalian tidak tau.
-lamonna
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring disini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi
-sapardi djoko damono
biarkan aku dalam hening, tanpa kalian tau dimana.
sendiri.. memandangi cahaya sore yang terselip dicelah jendela
biarkan pikiranku berlari-lari bersama imajinasi
lalu aku bebas tanpa mereka..
biarkan 'aku' menjadi pemenang sebelum tiba di dunia lagi
biarkan aku di negri ku sendiri. tanpa terpaan.
hatiku selembar daun..
terkadang aku ingin terbawa angin..
dan melayang ditempat yg kalian tidak tau.
-lamonna
1.3.10
pagi..dunia!
ternyata ini sudah pagi
aku rasa aku harus bangun
melupakan mimpi semalam
melupakan purnama yang semalam lupa datang
ternyata matahari tidak pernah lelah menyapaku
aku ingin mengumpulkan ilalang
sambil menyusuri jalan
meskipun belum tau pasti kemana...
aku rasa aku harus bangun
melupakan mimpi semalam
melupakan purnama yang semalam lupa datang
ternyata matahari tidak pernah lelah menyapaku
aku ingin mengumpulkan ilalang
sambil menyusuri jalan
meskipun belum tau pasti kemana...
25.2.10
kembali.
Ya Tuhan, saya hanya umat yang terkadang pergi
Entah mencari peraduan kemana.
Saya hanya umat yang selalu bertanya
Namun tidak berusaha menemukan jawabMu,
Yang mungkin Engkau selipkan didekatku.
Hampa ini rasanya kosong sekali..
Saya ingin kembali pada sujud dengan beribu-ribu keyakinan
Dan Engkau masih selalu menunggu, kan?
Entah mencari peraduan kemana.
Saya hanya umat yang selalu bertanya
Namun tidak berusaha menemukan jawabMu,
Yang mungkin Engkau selipkan didekatku.
Hampa ini rasanya kosong sekali..
Saya ingin kembali pada sujud dengan beribu-ribu keyakinan
Dan Engkau masih selalu menunggu, kan?
seperti ketika menunggu kapan hujan akan berhenti
Seperti ketika menunggu kapan hujan berhenti,
kita menunggu ketidakpastian.
Kapan hujan itu berhenti?
Apakah ketika langit sudah tidak mendung lagi?
Lalu membuat langkah meragu untuk menghalaunya.
Saya merasa......seperti sedang menunggu hujan berhenti.
Saya hanya bisa menerka. Berusaha meyakinkan diri.
Saya hanya bisa melihat sesekali ke jendela.
Saya gelisah. Mondar-mandir jalan lalu duduk lagi.
Mungkin kita akan sedikit kehujanan, tapi mungkin saja itu keputusan yang tepat karena kita menjadi datang disaat yang tepat
Atau mungkin saja kita malah akan basah kuyup dan terjebak karena hujan semakin besar bagai badai. Akhirnya sedikit menyesal.
Dan bisa saja..ditengah jalan, hujan berhenti. hingga kita bisa merasakan kesejukan dan bau tanah yang menyenangkan.
Namun, saya masih saja seperti menunggu kapan hujan akan berhenti.
Saya gelisah. Namun saya tidak punya kuasa.
kita menunggu ketidakpastian.
Kapan hujan itu berhenti?
Apakah ketika langit sudah tidak mendung lagi?
Lalu membuat langkah meragu untuk menghalaunya.
Saya merasa......seperti sedang menunggu hujan berhenti.
Saya hanya bisa menerka. Berusaha meyakinkan diri.
Saya hanya bisa melihat sesekali ke jendela.
Saya gelisah. Mondar-mandir jalan lalu duduk lagi.
Mungkin kita akan sedikit kehujanan, tapi mungkin saja itu keputusan yang tepat karena kita menjadi datang disaat yang tepat
Atau mungkin saja kita malah akan basah kuyup dan terjebak karena hujan semakin besar bagai badai. Akhirnya sedikit menyesal.
Dan bisa saja..ditengah jalan, hujan berhenti. hingga kita bisa merasakan kesejukan dan bau tanah yang menyenangkan.
Namun, saya masih saja seperti menunggu kapan hujan akan berhenti.
Saya gelisah. Namun saya tidak punya kuasa.
kumpulan fase yang acak
Apakah saya pernah memberikan harapan semu? Jika iya, saya pasti berdosa.
Karena harapan yang kelewat banyak, bisa membunuh pelan-pelan.
Saya pernah mati karena harapan. Lalu mulai bangkit lagi dengan harapan yang baru. Lalu mati lagi. Lalu, menolak harapan lain namun tak kuasa melawannya. Lalu kembali hidup.
Akhirnya saya mulai menyimpulkan, bahwa hidup seperti kumpulan fase yang acak.
Semua akan tiba pada waktunya masing-masing. Tunggu saja... dan mainkan peranmu.
Jika kita peka, kita pasti akan lebih berpengalaman dari sebelumnya.
Artinya, bukan kita tidak mungkin akan jatuh lagi, namun ada kekuatan yang lebih utuh.
Ya, seharusnya memang begitu. Bagaimana mungkin kita tidak kuat menanjak padahal sebelumnya sudah jatuh bangun untuk sampai di bukit?
Kita akan terus mencari jati diri. Karena kita selalu merasa belum juga menemukannya.
Tetapi jika kita bersyukur, kita akan menjadikan apa yang ada menjadi yang terbaik.
Ingin sekali rasanya membuang sekumpulan masa lalu ke sungai, dan membiarkan arus membawanya ke laut.
Ini hanya masalah waktu kan, Tuhan?
Karena harapan yang kelewat banyak, bisa membunuh pelan-pelan.
Saya pernah mati karena harapan. Lalu mulai bangkit lagi dengan harapan yang baru. Lalu mati lagi. Lalu, menolak harapan lain namun tak kuasa melawannya. Lalu kembali hidup.
Akhirnya saya mulai menyimpulkan, bahwa hidup seperti kumpulan fase yang acak.
Semua akan tiba pada waktunya masing-masing. Tunggu saja... dan mainkan peranmu.
Jika kita peka, kita pasti akan lebih berpengalaman dari sebelumnya.
Artinya, bukan kita tidak mungkin akan jatuh lagi, namun ada kekuatan yang lebih utuh.
Ya, seharusnya memang begitu. Bagaimana mungkin kita tidak kuat menanjak padahal sebelumnya sudah jatuh bangun untuk sampai di bukit?
Kita akan terus mencari jati diri. Karena kita selalu merasa belum juga menemukannya.
Tetapi jika kita bersyukur, kita akan menjadikan apa yang ada menjadi yang terbaik.
Ingin sekali rasanya membuang sekumpulan masa lalu ke sungai, dan membiarkan arus membawanya ke laut.
Ini hanya masalah waktu kan, Tuhan?
18.2.10
hanya untuk malam ini
Saya akan jatuh hanya untuk malam ini.
Besok, saya akan berlari secepat2nya tanpa kamu tau akan kemana
Dan kamu tidak akan pernah tau..
Besok, saya akan berlari secepat2nya tanpa kamu tau akan kemana
Dan kamu tidak akan pernah tau..
hanya sekedar membayangkan. semoga membantu pembaca :)
Tidak ada yang lebih menyakitkan, dari ditinggalkan. Bahkan, ketika kita hanya melepas kepergian seseorang di stasiun, bunyi kereta api yang menderu-deru, mencabik-cabik pagar pertahanan hati yang sudah tinggi menjulang. Airmata mendesak-desak ingin keluar. Padahal mungkin, keduanya akan bertemu tidak lama lagi.
Namun, ditinggalkan tetap saja ditinggalkan.
Lalu bagaimana dengan ditinggalkan untuk selama-lamanya?
Jika membunuh itu tidak dosa, mungkin lebih baik membunuh orang yang hendak meninggalkan-tanpa-rasa-menyesal itu. Haha..kata-kata ini terlalu ekstrim ya. Intinya, terlalu menyakitkan rasanya. Meskipun sudah menghibur diri bahwa pasti akan bisa melewati hari-hari mendung kedepan, namun.. tetap saja namun. Matahari saja tidak mampu menyinari gelapnya relung hati.. dan wejangan-wejangan dari beribu kata bijak tidak mampu menambal lubang hati yang kelewat dalam.
Sumpah serapah mengiringi kepergian si-manusia-yang-meninggalkan. Dia tidak sadar atau mungkin pura-pura tidak sadar, karma sedang mengikutinya perlahan. Sedangkan yang ditinggalkan menutup semua pintu, jendela, hingga celah-celah angin. Dia sendirian kesulitan bernafas. Padahal diluar sana, bunga-bunga sedang bermekaran. Awan-awan indah bergelombang. Lalu dia mulai mengintip dari dalam. Sayang, ini sudah malam, dia hanya melihat kegelapan, sesekali lampu jalan yang mulai redup. Dia semakin merasa nestapa.
Percayalah. Waktu akan menjawab semuanya.
Namun, ditinggalkan tetap saja ditinggalkan.
Lalu bagaimana dengan ditinggalkan untuk selama-lamanya?
Jika membunuh itu tidak dosa, mungkin lebih baik membunuh orang yang hendak meninggalkan-tanpa-rasa-menyesal itu. Haha..kata-kata ini terlalu ekstrim ya. Intinya, terlalu menyakitkan rasanya. Meskipun sudah menghibur diri bahwa pasti akan bisa melewati hari-hari mendung kedepan, namun.. tetap saja namun. Matahari saja tidak mampu menyinari gelapnya relung hati.. dan wejangan-wejangan dari beribu kata bijak tidak mampu menambal lubang hati yang kelewat dalam.
Sumpah serapah mengiringi kepergian si-manusia-yang-meninggalkan. Dia tidak sadar atau mungkin pura-pura tidak sadar, karma sedang mengikutinya perlahan. Sedangkan yang ditinggalkan menutup semua pintu, jendela, hingga celah-celah angin. Dia sendirian kesulitan bernafas. Padahal diluar sana, bunga-bunga sedang bermekaran. Awan-awan indah bergelombang. Lalu dia mulai mengintip dari dalam. Sayang, ini sudah malam, dia hanya melihat kegelapan, sesekali lampu jalan yang mulai redup. Dia semakin merasa nestapa.
Percayalah. Waktu akan menjawab semuanya.
dinamika
Buka hati seluas-luasnya....dengarkan baik-baik pertanda alam.. lihat dengan seksama perubahan yang bergerak perlahan. Ikuti petunjuk jalan. Dan jangan pernah takut tersesat. Karena setiap jalan memberikan arti yang teramat dalam. Dan modal untuk jalan berikutnya didepan.
bagaimana mungkin kamu masih saja tersungkur di sudut kamar?
bergerak!
bagaimana mungkin kamu masih saja tersungkur di sudut kamar?
bergerak!
Subscribe to:
Posts (Atom)